Demi Efisiensi, Sektor Usaha Perlu Berubah
Selasa, 16 Maret 2021 - 06:17 WIB
"Tanggung jawab pekerjaan berupa laporan harus tetap berjalan. Sehingga meski bekerja dari jarak jauh tetap harus tanggung jawab terhadap pekerjaan," katanya.
Tidak Ada Jam Kerja
Dihubungi terpisah, Dosen Administrasi Perkantoran Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI), Mila Viendyasari mengatakan era officeless sudah banyak dilakukan sejumlah perusahaan di luar negeri. Sebut saja Amerika, Eropa dan Jepang. Dulu, sistem kerja seperti ini sering disebut dengan flexy work dimana pekerja bisa bekerja tanpa harus datang ke kantor.
“Kalau dilihat dari data, negara yang sangat tinggi menerapkan ini contohnya yaitu Belgia, Finlandia lebih dari 20%. Dari tahun 2010 keatas mereka sudah terapkan sistem kerja flexy work. Amerika juga lumayan tinggi, Swedia paling tinggi,” katanya.
Menurut dia, negara-negara tersebut mampu menerapkan sistem officeless karena budaya disiplin pekerja sudah tinggi. Sehingga walaupun tidak datang ke kantor namun mereka sudah otomatis mengerjakan tugas sesuai kewajiban. Jika ditelisik lebih lanjut, masih ada hal-hal pemicu yang harus diterapkan untuk sistem kerja disini. Misalnya untuk karyawan yang datang on time akan mendapat penghargaan. Atau sebaliknya, pekerja yang datang telat akan diberikan sanksi.
Baca juga:Efek WFH, Perusahaan Pangkas Luas Kantor Sampai 30%
Dia mengungkapkan, penerapan work from home (WFH) yang paling penting adalah budaya kerjanya. Di Indonesia agak syok culture, karena biasanya untuk datang ke kantor tepat waktu harus ada iming-iming atau ada sanksi kalau terlambat.
“Bayangkan mental masih begitu terus sekarang diterapkan WFH, bisa jadi bermalas-malas. Memang budaya ini PR- nya bersama terutama untuk perusahaan harus pintar bagaimana menerapkan karyawan agar disiplin tapi dengsn sistem WFH. Perusahaan harus punya sistem yang baik untuk pengontrolan pekerjaan karyawan,” paparnya.
Mila menuturkan, siap tidak siap sebenarnya kedepan memang officeless akan diterapkan di berbagai bidang bahkan di pemerintahan. Namun dengan kondisi pandemi ini seakan kita jadi terpaksa lebih cepat menerapkannya.
Jadi kalau dilihat dari berbagai referensi di luar negeri tahun 1980an sudah banyak pengusahan sudah banyak yang menerapkan bekerja dari rumah. Lalu bagaimana di Indonesia? Mila menuturkan mungkin banyak yang belum siap. Tapi, mau tidak mau harus siap karena dengan kondisi new normal ini. “Kalaupun Covid sudah selesai, banyak perusahaan yang mau menerapkan hybrid. Ngga kayak dulu lagi tiap hari ke kantor, jadi banyak yang ingin menerapkan dan memang ternyata ada hal-hal yang ternyata membuat efisian secara di kantor operasional kantor,” ungkapnya.
Mila menjelaskan, beberapa perusahaan yang sudah disurvei semisal Google bahkan mereka tidak lagi menerapkan jam kerja. Karyawan lebih bebas, tapi memang secara mental karyawan sudah terbentuk dengan baik. Jadi memang sudah disiplin, dimanapun mereka berada bahkan di kantor mereka tidak harus duduk di mejanya, karena disana banyak cafe tapi mereka tetap kerja.
Lebih lanjut dia menjelaskan, jika dilihat dari operasional bulanan officeless lebih efisien. Di sisi lain, harus diperhatikan juga perangkat kerja yang digunakan untuk membangun sistem IT yang baik. Kemudian setiap orang harus dibekali dengan perangkat kerja yang mumpuni.
“Bisa efisian, tapi juga harus investasi besar di sisi lain terutama untuk mendukung perangkat kerja. Belum lagi sistem yang berhubungan dengan HRD, semisal seperti apa absennya, laporannya. Secara daily sudah pasti operasional turun, tapi harus investasi di bidang lain,” paparnya.
Tidak Ada Jam Kerja
Dihubungi terpisah, Dosen Administrasi Perkantoran Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI), Mila Viendyasari mengatakan era officeless sudah banyak dilakukan sejumlah perusahaan di luar negeri. Sebut saja Amerika, Eropa dan Jepang. Dulu, sistem kerja seperti ini sering disebut dengan flexy work dimana pekerja bisa bekerja tanpa harus datang ke kantor.
“Kalau dilihat dari data, negara yang sangat tinggi menerapkan ini contohnya yaitu Belgia, Finlandia lebih dari 20%. Dari tahun 2010 keatas mereka sudah terapkan sistem kerja flexy work. Amerika juga lumayan tinggi, Swedia paling tinggi,” katanya.
Menurut dia, negara-negara tersebut mampu menerapkan sistem officeless karena budaya disiplin pekerja sudah tinggi. Sehingga walaupun tidak datang ke kantor namun mereka sudah otomatis mengerjakan tugas sesuai kewajiban. Jika ditelisik lebih lanjut, masih ada hal-hal pemicu yang harus diterapkan untuk sistem kerja disini. Misalnya untuk karyawan yang datang on time akan mendapat penghargaan. Atau sebaliknya, pekerja yang datang telat akan diberikan sanksi.
Baca juga:Efek WFH, Perusahaan Pangkas Luas Kantor Sampai 30%
Dia mengungkapkan, penerapan work from home (WFH) yang paling penting adalah budaya kerjanya. Di Indonesia agak syok culture, karena biasanya untuk datang ke kantor tepat waktu harus ada iming-iming atau ada sanksi kalau terlambat.
“Bayangkan mental masih begitu terus sekarang diterapkan WFH, bisa jadi bermalas-malas. Memang budaya ini PR- nya bersama terutama untuk perusahaan harus pintar bagaimana menerapkan karyawan agar disiplin tapi dengsn sistem WFH. Perusahaan harus punya sistem yang baik untuk pengontrolan pekerjaan karyawan,” paparnya.
Mila menuturkan, siap tidak siap sebenarnya kedepan memang officeless akan diterapkan di berbagai bidang bahkan di pemerintahan. Namun dengan kondisi pandemi ini seakan kita jadi terpaksa lebih cepat menerapkannya.
Jadi kalau dilihat dari berbagai referensi di luar negeri tahun 1980an sudah banyak pengusahan sudah banyak yang menerapkan bekerja dari rumah. Lalu bagaimana di Indonesia? Mila menuturkan mungkin banyak yang belum siap. Tapi, mau tidak mau harus siap karena dengan kondisi new normal ini. “Kalaupun Covid sudah selesai, banyak perusahaan yang mau menerapkan hybrid. Ngga kayak dulu lagi tiap hari ke kantor, jadi banyak yang ingin menerapkan dan memang ternyata ada hal-hal yang ternyata membuat efisian secara di kantor operasional kantor,” ungkapnya.
Mila menjelaskan, beberapa perusahaan yang sudah disurvei semisal Google bahkan mereka tidak lagi menerapkan jam kerja. Karyawan lebih bebas, tapi memang secara mental karyawan sudah terbentuk dengan baik. Jadi memang sudah disiplin, dimanapun mereka berada bahkan di kantor mereka tidak harus duduk di mejanya, karena disana banyak cafe tapi mereka tetap kerja.
Lebih lanjut dia menjelaskan, jika dilihat dari operasional bulanan officeless lebih efisien. Di sisi lain, harus diperhatikan juga perangkat kerja yang digunakan untuk membangun sistem IT yang baik. Kemudian setiap orang harus dibekali dengan perangkat kerja yang mumpuni.
“Bisa efisian, tapi juga harus investasi besar di sisi lain terutama untuk mendukung perangkat kerja. Belum lagi sistem yang berhubungan dengan HRD, semisal seperti apa absennya, laporannya. Secara daily sudah pasti operasional turun, tapi harus investasi di bidang lain,” paparnya.
Lihat Juga :