Pelatihan Online di Kartu Prakerja Tidak Lebih Baik dari Konten Gratis Youtube
Selasa, 19 Mei 2020 - 19:05 WIB
"Sementara jika dilihat dari struktur tenaga kerja Indonesia, hampir 87% pendidikannya hanya SD, SMP, dan SMA, lalu 13% nya yang memperoleh pendidikan tinggi. Hal ini berarti, metode ini tidak bisa meng-capture mereka yang gagap teknologi (gaptek)," lanjut Esther.
Selain itu, metode pelatihan online dinilai kurang efektif karena sangat bergantung pada kualitas internet, dan juga interaksi antara instruktur dan peserta yang minim. Kemudian, ia mengatakan bahwa materi pelatihan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Menurutnya dipetakan industri mana yang banyak membutuhkan tenaga kerja. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tahun 2020, saat ini industri yang membutuhkan banyak tenaga kerja antara lain industri sarung tangan, hand sanitizer, dan ethanol.
"Materi pelatihan ini harusnya bisa di-link and match dengan perusahaan-perusahaan penampung, sehingga kurikulumnya bisa sesuai dengan kebutuhan perusahaan penampung dan tenaga kerja. Jadi begitu lulus, mereka bisa langsung diterima," ungkap Esther.
Sementara itu terang dia sudah banyak materi gratis di Youtube, dan di Kartu Prakerja harganya lebih mahal. Beberapa perusahaan swasta juga sudah menyediakan tawaran pelatihan keterampilan secara cuma-cuma. "Seharusnya Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menggandeng pihak-pihak yang menyelenggarakan pelatihan gratis itu," tambah Esther.
Selain itu, metode pelatihan online dinilai kurang efektif karena sangat bergantung pada kualitas internet, dan juga interaksi antara instruktur dan peserta yang minim. Kemudian, ia mengatakan bahwa materi pelatihan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Menurutnya dipetakan industri mana yang banyak membutuhkan tenaga kerja. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tahun 2020, saat ini industri yang membutuhkan banyak tenaga kerja antara lain industri sarung tangan, hand sanitizer, dan ethanol.
"Materi pelatihan ini harusnya bisa di-link and match dengan perusahaan-perusahaan penampung, sehingga kurikulumnya bisa sesuai dengan kebutuhan perusahaan penampung dan tenaga kerja. Jadi begitu lulus, mereka bisa langsung diterima," ungkap Esther.
Sementara itu terang dia sudah banyak materi gratis di Youtube, dan di Kartu Prakerja harganya lebih mahal. Beberapa perusahaan swasta juga sudah menyediakan tawaran pelatihan keterampilan secara cuma-cuma. "Seharusnya Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menggandeng pihak-pihak yang menyelenggarakan pelatihan gratis itu," tambah Esther.
Lihat Juga :