UMKM Masih Tersandera Masalah Klasik, Rendahnya Produktivitas dan Daya Saing

Jum'at, 02 April 2021 - 23:55 WIB
Menurut Teten, mayoritas petani kita memiliki lahan yang sempit, sehingga tercipta keterbatasan dalam hal kualitas dan suplai produk. "Lagi-lagi, dalam kondisi seperti itu, koperasi bisa mengonsolidasi petani-petani berlahan sempit tersebut," kata dia.

Lebih dari itu, dengan korporatisasi petani, khususnya di sektor pangan, harus menggandeng offtaker agar produk pertanian terjaga suplai dan kualitasnya. "Saya contohkan petani bawang di Brebes, yang sejahtera itu tengkulaknya, bukan petaninya. Fungsi tengkulak bisa digantikan koperasi. Koperasi yang harus membeli produk petani yang akan diserap. Ini model bisnis yang sedang kita bangun," paparnya. Baca Juga: Sekarang Puji Pemerintah Setinggi Langit, Kubu Moeldoko Sebut Sikap Cikeas Paradoks

Teten juga merujuk warung-warung milik rakyat takkan bisa melawan jaringan ritel modern dan usahanya pun tidak akan berkembang. "Koperasi bisa mengkonsolidasi warung-warung tersebut dengan membangun semacam pusat distribusi," ucap dia.

Oleh karena itu, Teten mengajak koperasi-koperasi besar untuk masuk ke sektor produksi, seperti pertanian, kelautan, peternakan, dan sebagainya. "Bayangkan, kita masih impor susu, sedangkan kita punya banyak petani susu. Namun, masih berskala ekonomi rendah. Kita bisa konsolidasikan potensi itu lewat koperasi hingga masuk skala ekonomi," tegas Teten.

Bagi Teten, sudah saatnya mengubah pola Syarikat Dagang menjadi Syarikat Produksi, sehingga produk-produk UMKM bisa masuk rantai pasok global. "Di sini, UMKM bisa terintegrasi melalui koperasi," tegasnya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!