Industri Elektronik Mulai Pulih, Keran Ekspor Terbuka Lebar di 2021
Jum'at, 30 April 2021 - 20:25 WIB
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
JAKARTA - Kementerian Perindustrian mencatat sektor industri kembali pulih, tercermin dalam indeks manufaktur atau Purchasing Manufacturs Index (PMI) yang berada pada level ekspansi 53,2 di Maret 2021. Ini merupakan level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Masrokhan, mengatakan bahwa industri pengolahan mampu mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 131,13 miliar pada Januari-Desember 2020 di tengah pandemi COVID-19. Angka ini naik 2,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut membuat neraca perdagangan sektor manufaktur sepanjang tahun 2020 surplus menjadi USD 14,17 miliar. “Hal-hal tersebut menandakan sektor industri mulai menggeliat kembali untuk produksi perekonomian. Momentum ini jangan sampai hilang dan harus kita jaga,” ujar Masrokhan di Jakarta, Jumat (30/4/2021).
Baca Juga: Melawan Lupa! Utang Lapindo Rp773 Miliar ke Negara Belum Lunas
Dia melanjutkan, salah satu subsektor industri pengolahan non migas yang memberikan kontribusi terbesar ke perekonomian adalah barang elektronik. Sepanjang tahun lalu, kontribusi industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik sebesar USD 1,63 miliar.
Adapun industri elektronik tersebut juga mencatatkan ekspor yang tinggi, senilai USD 3,75 miliar sepanjang 2020. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya USD 1,1 miliar. “Untuk kuartal I 2021 ini, sektor logam, komputer, barang elektronik masuk dalam lima besar investasi sektor industri yang berada di posisi pertama dengan nilai Rp 31,2 triliun,” jelasnya.
Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Masrokhan, mengatakan bahwa industri pengolahan mampu mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 131,13 miliar pada Januari-Desember 2020 di tengah pandemi COVID-19. Angka ini naik 2,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut membuat neraca perdagangan sektor manufaktur sepanjang tahun 2020 surplus menjadi USD 14,17 miliar. “Hal-hal tersebut menandakan sektor industri mulai menggeliat kembali untuk produksi perekonomian. Momentum ini jangan sampai hilang dan harus kita jaga,” ujar Masrokhan di Jakarta, Jumat (30/4/2021).
Baca Juga: Melawan Lupa! Utang Lapindo Rp773 Miliar ke Negara Belum Lunas
Dia melanjutkan, salah satu subsektor industri pengolahan non migas yang memberikan kontribusi terbesar ke perekonomian adalah barang elektronik. Sepanjang tahun lalu, kontribusi industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik sebesar USD 1,63 miliar.
Adapun industri elektronik tersebut juga mencatatkan ekspor yang tinggi, senilai USD 3,75 miliar sepanjang 2020. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya USD 1,1 miliar. “Untuk kuartal I 2021 ini, sektor logam, komputer, barang elektronik masuk dalam lima besar investasi sektor industri yang berada di posisi pertama dengan nilai Rp 31,2 triliun,” jelasnya.
Lihat Juga :