Produksi Blok Rokan Jadi Taruhan, Pasokan Listrik-Uap Harus Segera Dipastikan
Senin, 24 Mei 2021 - 06:29 WIB
Dia menegaskan, kepastian pasokan listrik dari PLTGU NDC akan menjaga produksi minyak dari Blok Rokan, minimal tidak turun drastis. Berdasarkan data dari SKK Migas, hingga kuartal I/2021 produksi minyak dari Blok Rokan rata-rata 162.951 barel per hari (bph), turun dari realisasi kuartal I/2020 yang sebesar 174.424 bph.
Mengenai pasokan listrik untuk Blok Rokan selanjutnya dikaitkan dengan adanya peralihan pengelolaan, menurutnya perlu ditinjau basis dan kesepakatan antara para pihak yang telah berjalan selama ini. Komaidi menilai, perlu disampaikan kepada publik bagaimana hak dan kewajiban para pihak setelah kontrak pengusahaan Blok Rokan beralih dari pengelola lama kepada pengelola yang baru. "Para pihak tentu harus mengacu pada ketentuan dan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya," kata dia.
Terpisah, Wakil Kepala SKK Migas Fataryani Abdurahman mengakui bahwa listrik dan uap adalah tulang punggung operasi yang ada di Blok Rokan. PLTGU NDC yang didesain pada dekade 90-an penting untuk pelaksanaan teknologi steamflood enhanced oil recovery (EOR) di blok tersebut. Terkait dengan itu, kata dia, SKK Migas telah mengirimkan surat kepada CPI perihal pembangkit tersebut.
Baca Juga: Curi Rudal Anti Tank dan Senapan Ringan, Ratusan Tentara Buru 'Rambo' Belgia
Sebelumnya, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril menjelaskan PLN telah menyiapkan rencana untuk pasokan listrik Blok Rokan. Kebutuhan listrik dan uap untuk Blok Rokan ke depan menurutnya dibagi dalam dua tahap. Pertama, masa transisi (2021-2024) yang memanfaatkan pasokan eksisting dengan skema akuisisi PLTG NDC dengan biaya yang paling efisien.
PLTGU NDC rencananya hanya akan digunakan selama tiga tahun karena PLN selanjutnya akan memasok listrik untuk Blok Rokan melalui interkoneksi dengan sistem kelistrikan Sumatera yang lebih terjamin.
Tahap kedua, masa permanen (2024-dst), dimana listrik secara total dipasok dari Sistem Sumatera dan uap akan dipasok dengan pembangunan steam generator yang lebih andal.
Mengenai pasokan listrik untuk Blok Rokan selanjutnya dikaitkan dengan adanya peralihan pengelolaan, menurutnya perlu ditinjau basis dan kesepakatan antara para pihak yang telah berjalan selama ini. Komaidi menilai, perlu disampaikan kepada publik bagaimana hak dan kewajiban para pihak setelah kontrak pengusahaan Blok Rokan beralih dari pengelola lama kepada pengelola yang baru. "Para pihak tentu harus mengacu pada ketentuan dan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya," kata dia.
Terpisah, Wakil Kepala SKK Migas Fataryani Abdurahman mengakui bahwa listrik dan uap adalah tulang punggung operasi yang ada di Blok Rokan. PLTGU NDC yang didesain pada dekade 90-an penting untuk pelaksanaan teknologi steamflood enhanced oil recovery (EOR) di blok tersebut. Terkait dengan itu, kata dia, SKK Migas telah mengirimkan surat kepada CPI perihal pembangkit tersebut.
Baca Juga: Curi Rudal Anti Tank dan Senapan Ringan, Ratusan Tentara Buru 'Rambo' Belgia
Sebelumnya, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril menjelaskan PLN telah menyiapkan rencana untuk pasokan listrik Blok Rokan. Kebutuhan listrik dan uap untuk Blok Rokan ke depan menurutnya dibagi dalam dua tahap. Pertama, masa transisi (2021-2024) yang memanfaatkan pasokan eksisting dengan skema akuisisi PLTG NDC dengan biaya yang paling efisien.
PLTGU NDC rencananya hanya akan digunakan selama tiga tahun karena PLN selanjutnya akan memasok listrik untuk Blok Rokan melalui interkoneksi dengan sistem kelistrikan Sumatera yang lebih terjamin.
Tahap kedua, masa permanen (2024-dst), dimana listrik secara total dipasok dari Sistem Sumatera dan uap akan dipasok dengan pembangunan steam generator yang lebih andal.
Lihat Juga :