Nasib Garuda ke Depannya: Terus Dipelihara atau Masuk Liang Kubur
Minggu, 30 Mei 2021 - 15:21 WIB
Sebagai renungan saja. Sebelum pandemi menyerang, ketika pariwisata tengah booming apa yang dinikmati Garuda? Selama kurun 2009 hingga 2019, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung terus meningkat. Di tahun 2009 jumlah kunjungan "baru" tercatat sebanyak 6,32 juta wisman. Jumlah itu tiap tahun terus meningkat dan di tahun 2019 mencapai 16,11 juta orang.
Baca juga:Indonesia-Turki Kolaborasi Bangun Peralatan Tempur, Tank Harimau Jadi Bukti
Booming pariwisata selama 10 tahun terakhir itu bisa dibilang tak menetes ke Garuda. Baru pada tahun 2019, seperti Yenny Wahid katakan dalam twit berikutnya, Garuda mendapatkan laba sebesar USD19 juta.
"Thn 2019 Garuda membukukan keuntungan operasional 19 jt $, tp tetap terbebani banyak hutang, salah satunya Sukuk yang jatuh tempo sebesar 500jt $ ( 8,5T). Sukuk diterbitkan jauh sebelum saya masuk. Sukuk akhirnya berhasil direstrukturisasi".
Raihan laba tahun itu pun sebetulnya bukan karena kinerja okupansi Garuda, tapi efisiensi yang tergolong ketat. Alias, pengurangan biaya di berbagai sektor.
"Itu karena ikat pinggang cost cutting mati-matian, seperti tidak ada training, tidak boleh dinas, dll. Ya bisanya cuma begitu, ngirit berat," kata Arista.
Memang sih, Garuda masih bisa diselamatkan. Tak cuma mengguyurnya dengan uang, tapi juga merombak habis-habisan tubuh Garuda. Mulai dari mengganti jajaran direksi, komisaris, hingga merampingkan organisasi Garuda.
"Bisa diselamatkan, asal jangan salah pilih BOD dan direksi," kata Arista.
Sayangnya, upaya-upaya penyelamatan itu tak akan menjamin Garuda bisa terus terbang. Kini, publik hanya bisa menunggu bagaimana kelanjutan nasib Garuda ke depannya. Apakah masih bisa mengepak, atau justru masuk liang kubur.
Baca juga:Indonesia-Turki Kolaborasi Bangun Peralatan Tempur, Tank Harimau Jadi Bukti
Booming pariwisata selama 10 tahun terakhir itu bisa dibilang tak menetes ke Garuda. Baru pada tahun 2019, seperti Yenny Wahid katakan dalam twit berikutnya, Garuda mendapatkan laba sebesar USD19 juta.
"Thn 2019 Garuda membukukan keuntungan operasional 19 jt $, tp tetap terbebani banyak hutang, salah satunya Sukuk yang jatuh tempo sebesar 500jt $ ( 8,5T). Sukuk diterbitkan jauh sebelum saya masuk. Sukuk akhirnya berhasil direstrukturisasi".
Raihan laba tahun itu pun sebetulnya bukan karena kinerja okupansi Garuda, tapi efisiensi yang tergolong ketat. Alias, pengurangan biaya di berbagai sektor.
"Itu karena ikat pinggang cost cutting mati-matian, seperti tidak ada training, tidak boleh dinas, dll. Ya bisanya cuma begitu, ngirit berat," kata Arista.
Memang sih, Garuda masih bisa diselamatkan. Tak cuma mengguyurnya dengan uang, tapi juga merombak habis-habisan tubuh Garuda. Mulai dari mengganti jajaran direksi, komisaris, hingga merampingkan organisasi Garuda.
"Bisa diselamatkan, asal jangan salah pilih BOD dan direksi," kata Arista.
Sayangnya, upaya-upaya penyelamatan itu tak akan menjamin Garuda bisa terus terbang. Kini, publik hanya bisa menunggu bagaimana kelanjutan nasib Garuda ke depannya. Apakah masih bisa mengepak, atau justru masuk liang kubur.
(uka)
Lihat Juga :