Penasaran Kenapa PLN Bisa Utang Ratusan Triliun? Simak Penjelasan Pengamat Ini
Sabtu, 12 Juni 2021 - 10:37 WIB
Pada periode 2015–2020, kata Mamit, aset PLN meningkat menjadi Rp1.589 triliun, naik sebesar Rp275 triliun. Menurut dia, sesuai dengan Perpres No 4/2016, PLN mendapatkan penugasan untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan seperti FTP-1 dan Program Pembangkit 35.000 MW. Tugas itu, tegas Mamit, jelas membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Kebutuhan untuk program 35.000 MW menurutnya adalah sebesar Rp1.200 triliun. Dari jumlah itu, PLN harus menyediakan dana kurang lebih Rp600 triliun dan selebihnya diharapkan ditutupi menggunakan dana swasta.
"Maka PLN harus putar otak agar penugasan tersebut bisa berjalan. Maka, untuk kebutuhan tersebut, PLN harus menggunakan dana internal, PMN, dan juga pinjaman dari luar," ujarnya.
Dana pinjaman tersebut menurutnya saat ini sudah terkonversi menjadi aset yang dimiliki PLN, dimana infrastruktur tersebut bisa dinikmati oleh masyarakat. Sampai Maret 2021, progress pembangunan 35 GW yang sudah beroperasi adalah 10 GW, jumlah transmisi 23.445 kms serta Gardu Induk dengan kapasitas 83.947 MVA. "Rasio elektrifikasi pun sudah meningkat dalam 5 tahun terakhir dari 88,3% pada 2015 menjadi 99,2% pada 2020," urai Mamit.
Melalui infrastruktur tersebut, saat ini daerah yang dahulu kekurangan pasokan listrik maka pada saat ini kondisi kelistrikan di daerah sudah terpenuhi. Kehandalan pasokan listrik PLN pun menurutnya saat ini sudah sangat bagus karena BUMN kelistrikan tersebut menyadari bahwa saat ini listrik merupakan kebutuhan utama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kebutuhan untuk program 35.000 MW menurutnya adalah sebesar Rp1.200 triliun. Dari jumlah itu, PLN harus menyediakan dana kurang lebih Rp600 triliun dan selebihnya diharapkan ditutupi menggunakan dana swasta.
"Maka PLN harus putar otak agar penugasan tersebut bisa berjalan. Maka, untuk kebutuhan tersebut, PLN harus menggunakan dana internal, PMN, dan juga pinjaman dari luar," ujarnya.
Dana pinjaman tersebut menurutnya saat ini sudah terkonversi menjadi aset yang dimiliki PLN, dimana infrastruktur tersebut bisa dinikmati oleh masyarakat. Sampai Maret 2021, progress pembangunan 35 GW yang sudah beroperasi adalah 10 GW, jumlah transmisi 23.445 kms serta Gardu Induk dengan kapasitas 83.947 MVA. "Rasio elektrifikasi pun sudah meningkat dalam 5 tahun terakhir dari 88,3% pada 2015 menjadi 99,2% pada 2020," urai Mamit.
Melalui infrastruktur tersebut, saat ini daerah yang dahulu kekurangan pasokan listrik maka pada saat ini kondisi kelistrikan di daerah sudah terpenuhi. Kehandalan pasokan listrik PLN pun menurutnya saat ini sudah sangat bagus karena BUMN kelistrikan tersebut menyadari bahwa saat ini listrik merupakan kebutuhan utama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.
Lihat Juga :