Harga Test PCR Diturunkan, Pengamat Penerbangan Sebut Kebijakan 'Delay'

Sabtu, 21 Agustus 2021 - 21:30 WIB
"Di beberapa negara memang harga PCR bervariasi, tapi tentu saja itu juga terkait dengan daya beli masing-masinh masyarakatnya. Di Indonesia kalau harganya Rp700 ribu sampai Rp1 juta rupiah memang mahal. Harga 450-550 ribu juga seharusnya bisa ditekan lagi, terbukti ada beberapa maskapai yg bisa menekan harga tes PCR jadi 200-300 ribu," lanjutnya.

Meski demikian, kebijakan inilah yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh para pelaku di industri penerbangan, baik itu dari sisi para operator penerbangan, maupun para calon penumpang pesawat. "Jadi sisi kesehatannya tetap terpenuhi, tapi juga tidak memberatkan penumpang dan nantinya diharapkan jumlah penumpang bertambah dan tentu saja operator penerbangan jadi bergairah kembali," sambung Gatot.

Baca juga: 1.361 Orang Meninggal Akibat COVID-19, Jabar Terbanyak Disusul Jateng dan Jatim

Gatot masih menunggu, kebijakan pemerintah melalui menteri-menterinya yang bisa membantu dunia penerbangan menjalani pandemi Covid 19. "Masih banyak kebijakan-kebijakan lain terkait operasional penerbangan yang bisa diambil oleh menteri perhubungan dan menteri BUMN, misalnya terkait slot, rute, harga tiket, avtur yang seharusnya bisa diatur agar tidak memengaruhi bahkan mendukung percepatan penanganan pandemi tapi juga tidak memberatkan masyarakat dan maskapai penerbangan," tutur Gatot.

Mengantisipasi harga test PCR yang melambung tinggi pada sebelumnya, Gatot menjelaskan banyak maskapai hingga bekerja sama dengan para klinik atau rumah sakit untuk mengadakan test PCR, seperti yang dilakukan oleh Lion Air. "Kalau ada kerja sama bandara, mskapai dan klinik atau rumah sakit dan diadakannya di bandara mungkin lebih baik lagi," tandasnya.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!