Krisis Komunikasi Bisa Berdampak pada Reputasi Perusahaan
Kamis, 09 September 2021 - 01:37 WIB
Diskusi bedah buku Public Relations (PR) Crisis yang digelar Universitas Kristen Petra Surabaya, Rabu (8/9/2021).
JAKARTA - Praktisi public relations (PR) dituntut untuk mampu mengetahui dan mengantisipasi terhadap datangnya potensi krisis komunikasi. Dalam upaya membangun image (citra) dan reputasi pascakrisis komunikasi diperlukan juga kemampuan berkomunikasi dua arah (two ways communications). Di sisi lain, media memainkan peran penting untuk dapat membawa krisis menemukan jalan keluar.
Hal tersebut menjadi benang merah dari diskusi bedah buku Public Relations (PR) Crisis yang digelar Universitas Kristen Petra Surabaya, Rabu (8/9/2021). Sebagai pembicara utama dari kegiatan ini adalah tiga penulis buku PR Crisis, yakni Dr Firsan Nova, Dian Agustine Nuriman, dan Mohammad Akbar. Sebagai moderator dari acara tersebut adalah dosen Petra, Amelia Sidik, PhD.
(Baca juga:Tren dan Solusi Masa Depan Public Relations (Catatan Akhir Tahun)
“Krisis itu terjadi dalam situasi apa saja yang bisa berdampak pada reputasi dan keuangan atau business sustainability. Kita tidak bisa melihat dari size krisisnya, tapi dari impactnya. Crisis is not about the size, but crisis is about the impact,” kata Firsan yang juga menjabat CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication.
Untuk dapat mengantisipasi dampak tersebut, Firsan mengatakan, seorang praktisi PR harus mampu membekali pengetahuannya terhadap hal-hal yang bisa menyebabkan krisis terjadi. “Hal ini bisa kita ketahui dari memahami critical point dan stakeholder yang kita miliki agar terhindar dari krisis,” ujarnya.
Hal tersebut menjadi benang merah dari diskusi bedah buku Public Relations (PR) Crisis yang digelar Universitas Kristen Petra Surabaya, Rabu (8/9/2021). Sebagai pembicara utama dari kegiatan ini adalah tiga penulis buku PR Crisis, yakni Dr Firsan Nova, Dian Agustine Nuriman, dan Mohammad Akbar. Sebagai moderator dari acara tersebut adalah dosen Petra, Amelia Sidik, PhD.
(Baca juga:Tren dan Solusi Masa Depan Public Relations (Catatan Akhir Tahun)
“Krisis itu terjadi dalam situasi apa saja yang bisa berdampak pada reputasi dan keuangan atau business sustainability. Kita tidak bisa melihat dari size krisisnya, tapi dari impactnya. Crisis is not about the size, but crisis is about the impact,” kata Firsan yang juga menjabat CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication.
Untuk dapat mengantisipasi dampak tersebut, Firsan mengatakan, seorang praktisi PR harus mampu membekali pengetahuannya terhadap hal-hal yang bisa menyebabkan krisis terjadi. “Hal ini bisa kita ketahui dari memahami critical point dan stakeholder yang kita miliki agar terhindar dari krisis,” ujarnya.
Lihat Juga :