Petani Milenial Bali Sukses Kembangkan Pertanian Organik Smart Farming
Jum'at, 17 September 2021 - 20:33 WIB
Agung Wedha asal Desa Gobleg, Kabupaten Buleleng layak menjadi figur ideal petani milenial. Dia diapresiasi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi. Atas pencapaiannya menjadi eksportir muda dan penggerak 2.000 petani milenial Bali dari komunitas Petani Muda Keren (PMK) di Bali didirikan Gung Wedha pada 2019.
“Petani milenial benar-benar keren. Pencapaiannya di atas ekspektasi saya. Mereka sudah melaksanakan inovasi teknologi, bahkan transfer dan implementasi teknologi ke stakeholder lain. Bukan hanya P4S juga pihak lain,” kata Dedi.
Gung Wedha membentuk komunitas PMK di Desa Goblek, Buleleng. Fokus pada komoditas hortikultura sayuran yang terintegrasi dengan pertanian smart farm didukung teknologi smart irigation yang dikendalikan Android, sistem operasi smartphone.
(Baca juga:Petani Milenial Bantaeng Dilatih untuk Tingkatkan Pertanian Kopi)
“Efisiensi yang luar biasa menyangkut waktu, ruang dan uang. Efisiensi merupakan kunci meningkatkan produktifitas,” kata Gung Wedha.
Dedi Nursyamsi menyarankan Agung mempatenkan teknologi temuannya, sehingga bisa dikomersialkan dengan produksi massal. Mengingat peralatannya cukup murah, hanya Rp5 jutaan, suatu saat permintaan akan meningkat setelah diketahui manfaatnya.
“Petani milenial benar-benar keren. Pencapaiannya di atas ekspektasi saya. Mereka sudah melaksanakan inovasi teknologi, bahkan transfer dan implementasi teknologi ke stakeholder lain. Bukan hanya P4S juga pihak lain,” kata Dedi.
Gung Wedha membentuk komunitas PMK di Desa Goblek, Buleleng. Fokus pada komoditas hortikultura sayuran yang terintegrasi dengan pertanian smart farm didukung teknologi smart irigation yang dikendalikan Android, sistem operasi smartphone.
(Baca juga:Petani Milenial Bantaeng Dilatih untuk Tingkatkan Pertanian Kopi)
“Efisiensi yang luar biasa menyangkut waktu, ruang dan uang. Efisiensi merupakan kunci meningkatkan produktifitas,” kata Gung Wedha.
Dedi Nursyamsi menyarankan Agung mempatenkan teknologi temuannya, sehingga bisa dikomersialkan dengan produksi massal. Mengingat peralatannya cukup murah, hanya Rp5 jutaan, suatu saat permintaan akan meningkat setelah diketahui manfaatnya.
Lihat Juga :