Ekonomi China Digerogoti Kasus Utang Jumbo Evergrande hingga Krisis Energi

Rabu, 29 September 2021 - 05:54 WIB
Raksasa perbankan dunia ramai-ramai memangkasa proyeksi pertumbuhan ekonomi China, seiring kekhawatiran atas nasib Evergrande yang terlilit utang jumbo dan krisis energi yang melanda. Foto/Dok
BEIJING - Goldman Sachs telah menjadi raksasa perbankan terbaru yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China , setelah negara berjuluk Tirai Bambu itu tengah dilanda krisis energi. Seperti diketahui sebelumnya warga di wilayah timur laut China mengalami pemadaman listrik mendadak yang awalnya melanda pabrik lalu menyebar ke rumah-rumah.

Goldman Sachs memperkirakan, ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan tumbuh sebesar 7,8% tahun ini. Angka tersebut turun dari prediksi sebelumnya sebesar 8,2% untuk tahun 2021.



Pemangkasan produksi di China sebagai akibat dari pemadaman listrik diyakini bakal menggerus pertumbuhan ekonomi China. Diperkirakan sebanyak 44% aktivitas industri China telah terpengaruh akibat krisis energi.

Baca Juga: Belum Usai Evergrande, China Alami Krisis Energi seperti Inggris

Krisis pasokan listrik di China disebabkan beberapa faktor di antaranya kebijakan perubahan iklim, kendala pasokan serta harga komoditas energi yang terus melonjak membuat beberapa pabrik hingga perubahan tidak memiliki listrik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!