Menyeluruh, Pertumbuhan Ekonomi Global Diproyeksi Turun di 2021
Rabu, 13 Oktober 2021 - 16:34 WIB
Disebutklan dalam laporan itu bahwa penurunan proyeksi pertumbuhan AS didorong isu gangguan suplai yang ditandai dengan naiknya inflasi yang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Konsekuensinya, konsumsi mengalami perlambatan di triwulan ke-3 yang turut dipengaruhi oleh kenaikan kasus Covid-19.
Sementara, penurunan proyeksi pertumbuhan China disebabkan pengurangan investasi publik dan pengetatan regulasi di sektor properti. Penurunan proyeksi juga dialami ASEAN-5, di mana laju pertumbuhan 2021 diperkirakan hanya mencapai 2,9% (turun 1,4 pp).
Penyebaran varian Delta menjadi faktor utama dari revisi ke bawah yang dilakukan pada kawasan ASEAN, selain jangkauan vaksinasi negara-negaranya yang relatif masih rendah dibanding negara maju.
Secara detail, proyeksi pertumbuhan Indonesia oleh IMF berada di tingkat 3,2% (turun 0,7 pp). Penurunan proyeksi Indonesia tidak sedalam koreksi pada negara ASEAN-5 lain yakni Thailand 1,0% (turun 1,1 pp), Malaysia 3,5% (turun 1,2 pp), Filipina 3,2% (turun 2,2 pp) dan Vietnam 3,8% (turun 2,7 pp).
IMF memandang berbagai risiko global masih perlu diwaspadai ke depan, antara lain pemulihan yang tidak merata karena ketimpangan vaksin, perkembangan mutasi Covid-19, risiko inflasi, volatilitas pasar keuangan, serta menurunnya stimulus ekonomi di berbagai negara.
Risiko lain yang perlu dicermati adalah terjadinya global supply disruption yang berpotensi mendorong terjadinya stagflasi global, kondisi di mana terjadi tekanan inflasi tinggi namun dibarengi dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi.
Sementara, penurunan proyeksi pertumbuhan China disebabkan pengurangan investasi publik dan pengetatan regulasi di sektor properti. Penurunan proyeksi juga dialami ASEAN-5, di mana laju pertumbuhan 2021 diperkirakan hanya mencapai 2,9% (turun 1,4 pp).
Penyebaran varian Delta menjadi faktor utama dari revisi ke bawah yang dilakukan pada kawasan ASEAN, selain jangkauan vaksinasi negara-negaranya yang relatif masih rendah dibanding negara maju.
Secara detail, proyeksi pertumbuhan Indonesia oleh IMF berada di tingkat 3,2% (turun 0,7 pp). Penurunan proyeksi Indonesia tidak sedalam koreksi pada negara ASEAN-5 lain yakni Thailand 1,0% (turun 1,1 pp), Malaysia 3,5% (turun 1,2 pp), Filipina 3,2% (turun 2,2 pp) dan Vietnam 3,8% (turun 2,7 pp).
IMF memandang berbagai risiko global masih perlu diwaspadai ke depan, antara lain pemulihan yang tidak merata karena ketimpangan vaksin, perkembangan mutasi Covid-19, risiko inflasi, volatilitas pasar keuangan, serta menurunnya stimulus ekonomi di berbagai negara.
Risiko lain yang perlu dicermati adalah terjadinya global supply disruption yang berpotensi mendorong terjadinya stagflasi global, kondisi di mana terjadi tekanan inflasi tinggi namun dibarengi dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi.
Lihat Juga :