Harga Minyak Mentah AS Melonjak di Atas Level USD90 Dibayangi Gangguan Pasokan
Jum'at, 04 Februari 2022 - 11:11 WIB
Badai musim dingin yang melanda Amerika Serikat bagian tengah dan Timur Laut sejak Kamis lalu. Angin yang kencang membawa salju disertai es yang lebat. Hal ini membuat sejumlah perjalanan kendaraan menjadi berisiko dan melumpuhkan ribuan listrik serta menutup sekolah-sekolah di beberapa negara bagian.
Baca Juga: Arab Saudi Kerek Harga Jual Bikin Minyak Mentah Makin Mahal
Karena pemulihan permintaan melebihi pasokan, pasar minyak dinilai semakin rentan terhadap guncangan pasokan. "Bahkan ketika ribuan penerbangan dibatalkan, pasar energi masih terpaku pada produksi," tutur Moya.
Ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah juga telah memicu kenaikan tajam minyak yang telah mendorong Brent berjangka naik 17% dan WTI sebesar 20% sepanjang tahun ini. Amerika Serikat menuduh Rusia berencana menggunakan serangan bertahap sebagai pembenaran untuk menyerang Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin menyalahkan NATO dan Barat atas meningkatnya ketegangan.
"Dengan risiko geopolitik di Ukraina dan peningkatan produksi bertahap produksi oleh OPEC+, harga diperkirakan akan menuju USD100 per barel," Chiyoki Chen, analis di Sunward Trading.
Baca Juga: Arab Saudi Kerek Harga Jual Bikin Minyak Mentah Makin Mahal
Karena pemulihan permintaan melebihi pasokan, pasar minyak dinilai semakin rentan terhadap guncangan pasokan. "Bahkan ketika ribuan penerbangan dibatalkan, pasar energi masih terpaku pada produksi," tutur Moya.
Ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah juga telah memicu kenaikan tajam minyak yang telah mendorong Brent berjangka naik 17% dan WTI sebesar 20% sepanjang tahun ini. Amerika Serikat menuduh Rusia berencana menggunakan serangan bertahap sebagai pembenaran untuk menyerang Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin menyalahkan NATO dan Barat atas meningkatnya ketegangan.
"Dengan risiko geopolitik di Ukraina dan peningkatan produksi bertahap produksi oleh OPEC+, harga diperkirakan akan menuju USD100 per barel," Chiyoki Chen, analis di Sunward Trading.
(akr)
Lihat Juga :