Industri Baja Nasional Cetak Kinerja Gemilang, Investasinya Naik Rp215 Triliun
Sabtu, 05 Februari 2022 - 06:09 WIB
Cindar mengartikan investasi yang ada di sektor hulu baja karbon saat ini bahan bakunya juga dipenuhi dari impor bukan mengolah dari dalam negeri karena hambatan teknis dan ekonomis. Dikatakan juga, oleh pemerhati UI ini bahwa baja yang dilakukan pengendalian pemerintah (dengan lartas) pada tahun 2019 sebesar 7,89 juta ton berhasil dikendalikan sebesar 6,35 juta ton atau turun 19 persen meskipun industri baja dikatagorikan import processing industry.
Baca Juga: Awas Banjir Baja Impor, Pemerintah Harus Lindungi Industri Nasional
Lebih lenjut ungkap Surya, memang persoalan kemajuan di Hilir baja lebih cepat dibanding dengan kemampuan supplai dari hulu baja, ini menjadi PR besar dalam mendukung investasi baja nasional. Satu sisi pemerintah melakukan rem pada baja yang di lartas, sisi yang lain bahan baku yang diproses oleh industri hulu baja carbon terjadi pengegasan impor bahan baku guna memenuhi kebutuhan industri baja hilir.
Jadi rem dan gas ini tidak harmonis karena kekurangan kemampuan di industri hulu baja nasional, imbuh Surya. Ekonom muda muhamadiyah ini melihat, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional memang harus dijaga supplai bahan baku baja ini, selama sektor baja ini masih surplus yang berasal dari baja stainless steel dalam neraca pembayaran masih baik.
Meski terang dia, industri hulu baja carbon masih terseok seok lebih lagi mereka belum mampu menghasilkan engineering steel, secara logic. "Tambahan investasi baru perlu impor bahan baku baja baru, pungkas Surya.
Baca Juga: Awas Banjir Baja Impor, Pemerintah Harus Lindungi Industri Nasional
Lebih lenjut ungkap Surya, memang persoalan kemajuan di Hilir baja lebih cepat dibanding dengan kemampuan supplai dari hulu baja, ini menjadi PR besar dalam mendukung investasi baja nasional. Satu sisi pemerintah melakukan rem pada baja yang di lartas, sisi yang lain bahan baku yang diproses oleh industri hulu baja carbon terjadi pengegasan impor bahan baku guna memenuhi kebutuhan industri baja hilir.
Jadi rem dan gas ini tidak harmonis karena kekurangan kemampuan di industri hulu baja nasional, imbuh Surya. Ekonom muda muhamadiyah ini melihat, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional memang harus dijaga supplai bahan baku baja ini, selama sektor baja ini masih surplus yang berasal dari baja stainless steel dalam neraca pembayaran masih baik.
Meski terang dia, industri hulu baja carbon masih terseok seok lebih lagi mereka belum mampu menghasilkan engineering steel, secara logic. "Tambahan investasi baru perlu impor bahan baku baja baru, pungkas Surya.
(akr)
Lihat Juga :