LPEI Hadirkan Keistimewaan Kain dan Kopi Indonesia Selama Pertemuan G20

Rabu, 23 Februari 2022 - 15:30 WIB
Ia menambahkan, LPEI mendorong banyak produsen kopi di level hulu untuk ikut menikmati aroma wangi bisnis kopi dunia. Salah satunya adalah melalui program Desa Devisa untuk komoditas kopi. Rijani optimistis, dengan pembinaan dan pendampingan yang tepat, sinergi dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan, khususnya pada ekosistem ekspor juga dengan promosi yang lebih gencar, kain dan kopi Indonesia bisa berbicara lebih banyak di pasar internasional, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha di kedua sektor tersebut.

Di ajang pertemuan G-20 sektor finansial yang dimulai 16 Februari lalu, LPEI juga berkolaborasi menggandeng barista-barista muda Indonesia yang sudah mendapatkan pengakuan internasional, untuk menyajikan kopi terbaik Indonesia kepada para delegasi dan tamu undangan.

“Ini sangat keren. Kita sebagai pemain kopi berkesempatan melayani delegasi dari kopi-kopi terbaik dari Indonesia, dan mereka bisa merasakan seperti apa nikmat dan enaknya kopi dari Indonesia. Untuk event G-20 ini, kita sajikan kopi bali kintamani, aceh gayo, dan toraja kalosi,” kata Yoshua Tanu, salah satu barista yang digandeng LPEI.

Sementara kain-kain yang diangkat oleh LPEI untuk ditunjukkan kepada bangsa-bangsa lain adalah kain tenun lurik dan tenun ikat yang sebagian sudah diolah menjadi aneka bentuk fashion dan home furnishing. Kain tenun sendiri merupakan warisan budaya yang eksistensinya terus dikembangkan setiap generasi.

Bukti arkeologis menegaskan bahwa seni menenun sudah dikenal di Indonesia pada abad ke-9 dan ke-10. Alat tenun yang digerakkan dengan tangan atau hand made membuat kegiatan menenun membutuhkan keahlian kecermatan, dan ketekeunan untuk menghasilkan kain yang berkualitas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!