Lepas Saham di Rosneft Saat Perang Ukraina Pecah, Raksasa Migas BP Kehilangan Rp38,8 Triliun
Senin, 28 Februari 2022 - 10:38 WIB
Chairman BP, Helge Lund mengatakan, bahwa sementara BP telah beroperasi di Rusia selama lebih dari 30 tahun dan memiliki "rekan-rekan Rusia yang brilian", serangan Rusia terhadap Ukraina "memiliki konsekuensi tragis di seluruh wilayah" dan mewakili perubahan mendasar.
"Ini telah menyebabkan dewan BP menyimpulkan, setelah proses menyeluruh, bahwa keterlibatan kami dengan Rosneft, sebuah perusahaan milik negara, tidak dapat dilanjutkan," terangnya.
Sementara Looney mengatakan, bahwa dia "sangat terkejut dan sedih" dengan situasi di Ukraina dan itu telah menyebabkan BP secara fundamental memikirkan kembali posisinya dengan Rosneft.
"Saya yakin bahwa keputusan yang telah kami ambil sebagai dewan bukan hanya hal yang benar untuk dilakukan, tetapi juga untuk kepentingan jangka panjang BP," katanya.
Kwarteng menyambut baik langkah itu, dengan mengatakan: "Invasi Rusia yang tidak beralasan ke Ukraina harus menjadi peringatan bagi bisnis Inggris dengan kepentingan komersial di Rusia."
Laporan tahunan terbaru BP, yang diterbitkan dua minggu lalu, mengungkapkan Rosneft menyumbang USD2,7 miliar yang setara Rp38,8 triliun (Kurs Rp14,369 per USD) dari keuntungannya, sekitar seperlima dari total yang didapatkan perusahaan.
Perusahaan multinasional, yang berkantor pusat di London, mengakui tahun lalu bahwa sanksi terhadap Rusia bisa menjadi masalah bagi bisnisnya dan pelepasan saham Rosneft diambil setelah negara-negara barat memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Rusia. Termasuk beberapa bank yang dikeluarkan dari sistem pembayaran internasional Swift.
BP mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana atau kepada siapa sahamnya di Rosneft akan diturunkan. Perusahaan akan membayar biaya USD11 miliar untuk menghapus kerugian valuta asing yang telah terakumulasi selama beberapa tahun terakhir dan biaya lain yang berkaitan dengan nilai sahamnya.
"Ini telah menyebabkan dewan BP menyimpulkan, setelah proses menyeluruh, bahwa keterlibatan kami dengan Rosneft, sebuah perusahaan milik negara, tidak dapat dilanjutkan," terangnya.
Sementara Looney mengatakan, bahwa dia "sangat terkejut dan sedih" dengan situasi di Ukraina dan itu telah menyebabkan BP secara fundamental memikirkan kembali posisinya dengan Rosneft.
"Saya yakin bahwa keputusan yang telah kami ambil sebagai dewan bukan hanya hal yang benar untuk dilakukan, tetapi juga untuk kepentingan jangka panjang BP," katanya.
Kwarteng menyambut baik langkah itu, dengan mengatakan: "Invasi Rusia yang tidak beralasan ke Ukraina harus menjadi peringatan bagi bisnis Inggris dengan kepentingan komersial di Rusia."
Laporan tahunan terbaru BP, yang diterbitkan dua minggu lalu, mengungkapkan Rosneft menyumbang USD2,7 miliar yang setara Rp38,8 triliun (Kurs Rp14,369 per USD) dari keuntungannya, sekitar seperlima dari total yang didapatkan perusahaan.
Perusahaan multinasional, yang berkantor pusat di London, mengakui tahun lalu bahwa sanksi terhadap Rusia bisa menjadi masalah bagi bisnisnya dan pelepasan saham Rosneft diambil setelah negara-negara barat memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Rusia. Termasuk beberapa bank yang dikeluarkan dari sistem pembayaran internasional Swift.
BP mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana atau kepada siapa sahamnya di Rosneft akan diturunkan. Perusahaan akan membayar biaya USD11 miliar untuk menghapus kerugian valuta asing yang telah terakumulasi selama beberapa tahun terakhir dan biaya lain yang berkaitan dengan nilai sahamnya.
Lihat Juga :