Bank Rusia Kena Sanksi, Antrean Panjang Mengular di ATM

Rabu, 02 Maret 2022 - 11:42 WIB
Mata uang memangkas beberapa kenaikan, tetapi masih diperdagangkan 20% lebih rendah dari penutupan pasar sebelumnya pada posisi 103 terhadap dolar tepat di Moskow kemarin di awal pekan. Rubel turun 28% dari tahun ke tahun.

Bank sentral juga memperkenalkan beberapa pengawasan modal untuk membatasi berapa banyak uang yang bisa keluar dari negara itu, karena gubernurnya Elvira Nabiullina mengatakan bahwa sanksi telah mencegahnya menjual mata uang asingnya untuk menopang rubel yang tenggelam.

"Bank sentral Rusia telah melakukan kontrol modal untuk menghentikan dampak yang lebih buruk. Semua yang mereka lakukan sifatnya sementara untuk menunda tekanan yang lebih besar," ujar Maximilian Hess, seorang ahli ekonomi Rusia di Foreign Policy Research Institute dilansir CNBC.

Sanksi yang diumumkan oleh para pemimpin AS dan Uni Eropa selama akhir pekan kemarin mempunyai dampak signifikan yang lebih keras daripada sanksi sebelumnya. Termasuk memotong beberapa bank Rusia dari sistem pembayaran SWIFT global, menutup wilayah udara Uni Eropa ke pesawat Rusia dan, yang paling signifikan, memberi sanksi kepada bank sentral Rusia untuk membekukan transaksinya.

Swiss pada hari Senin, mengumumkan akan bergabung dengan sanksi Uni Eropa yang menargetkan aset Rusia, sebuah perubahan penting dalam posisi netralitas bersejarahnya.

"Kami akan melumpuhkan aset bank sentral Rusia," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!