Pakar SDM: Fenomena Bubble Burst, Ketidakmampuan Kompetensi SDM di Perusahaan Rintisan
Rabu, 08 Juni 2022 - 07:49 WIB
Pakar Ekonomi Bidang Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung, (FE Unissula) Semarang, Prof. Olivia Fachrunnisa, SE, M.Si., Ph.D
JAKARTA - Terjadi fenomena ledakan gelembung atau bubble burst yang saat ini disebut tengah melanda perusahaan rintisan ( startup ) di Indonesia. Bubble burst dapat dimaknai sebagai fenomena terjadi eskalasi atau pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi, terutama pada nilai aset, namun diiringi dengan nilai penurunan yang cepat.
Di 2022 ini, sejumlah perusahaan rintisan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap karyawannya lantaran mengalami ketidakstabilan finansial perusahaan. Jika melihat peristiwa yang terjadi, perusahaan rintisan seperti timbul namun tenggelam. Banyak perusahaan rintisan baru yang hadir, namun tidak sedikit yang kelelahan lalu menghilang.
(Baca juga:Startup Menolak Tumbang)
Penyebab perusahaan rintisan di Indonesia mengalami kebangkrutan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut Pakar Ekonomi Bidang Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung, (FE Unissula) Semarang, Prof. Olivia Fachrunnisa, SE, M.Si., Ph.D, kondisi ini disebabkan oleh adanya gelombang transaksi penjualan yang berdampak pada turunnya harga di pasar.
Di 2022 ini, sejumlah perusahaan rintisan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap karyawannya lantaran mengalami ketidakstabilan finansial perusahaan. Jika melihat peristiwa yang terjadi, perusahaan rintisan seperti timbul namun tenggelam. Banyak perusahaan rintisan baru yang hadir, namun tidak sedikit yang kelelahan lalu menghilang.
(Baca juga:Startup Menolak Tumbang)
Penyebab perusahaan rintisan di Indonesia mengalami kebangkrutan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut Pakar Ekonomi Bidang Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung, (FE Unissula) Semarang, Prof. Olivia Fachrunnisa, SE, M.Si., Ph.D, kondisi ini disebabkan oleh adanya gelombang transaksi penjualan yang berdampak pada turunnya harga di pasar.
Lihat Juga :