Sederet Fakta Dampak Inflasi AS, RI Bisa Masuk Jurang Resesi
Sabtu, 11 Juni 2022 - 19:30 WIB
Inflasi AS tercatat selalu berada di atas 6% selama enam bulan berturut-turut.
Angka inflasi yang tinggi sejak pandemi bertambah kuat seiring peperangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, di mana Amerika Serikat melibatkan diri dengan aneka sanksinya. Kebijakan ini semakin mendongkrak harga-harga komoditas energi, pangan, dan logam.
Pembacaan inflasi yang kuat mengikuti data bulan lalu yang menunjukkan tingkat pengangguran turun ke level terendah baru dua tahun di 3,6% pada bulan Maret.
3. Bisa Munculkan Resesi
Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan bahwa kenaikan tingkat suku bunga AS atau The Fed Rate yang excessive atau berlebihan bisa 3-4 kali kenaikannya di tahun 2022. Sehingga dapat memicu terjadinya resesi ekonomi global termasuk Indonesia.
"Hal ini karena terjadi kenaikan biaya bunga atau cost of fund bagi pelaku usaha, khususnya pelaku usaha yang memiliki rasio utang yang cukup tinggi, mereka akan kesulitan membayar pinjaman sementara tidak semua permintaan mengalami kenaikan. Belum semua permintaan mengalami kenaikan seperti di level pra-pandemi," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta.
Baca Juga: Putin Ejek Barat Karena Menyebut Inflasi dengan Namanya
4. Saran Ekonom
Angka inflasi yang tinggi sejak pandemi bertambah kuat seiring peperangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, di mana Amerika Serikat melibatkan diri dengan aneka sanksinya. Kebijakan ini semakin mendongkrak harga-harga komoditas energi, pangan, dan logam.
Pembacaan inflasi yang kuat mengikuti data bulan lalu yang menunjukkan tingkat pengangguran turun ke level terendah baru dua tahun di 3,6% pada bulan Maret.
3. Bisa Munculkan Resesi
Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan bahwa kenaikan tingkat suku bunga AS atau The Fed Rate yang excessive atau berlebihan bisa 3-4 kali kenaikannya di tahun 2022. Sehingga dapat memicu terjadinya resesi ekonomi global termasuk Indonesia.
"Hal ini karena terjadi kenaikan biaya bunga atau cost of fund bagi pelaku usaha, khususnya pelaku usaha yang memiliki rasio utang yang cukup tinggi, mereka akan kesulitan membayar pinjaman sementara tidak semua permintaan mengalami kenaikan. Belum semua permintaan mengalami kenaikan seperti di level pra-pandemi," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta.
Baca Juga: Putin Ejek Barat Karena Menyebut Inflasi dengan Namanya
4. Saran Ekonom
Lihat Juga :