Investasi Properti Jadi Peluang di Tengah Pandemi Corona
Rabu, 24 Juni 2020 - 14:14 WIB
Krisis corona memberikan ruang dan waktu yang tepat untuk berinvestasi di properti. Mungkin bagi sebagian orang ide ini adalah gagasan yang kurang bijaksana, tetapi bagi sebagian yang lain ini akan melahirkan keuntungan yang luar biasa. (Baca: Korut Pasang Kembali Pengeras Suara di Sepanjang Perbatasan)
Pada krisis global pandemi korona ini lahir idiom baru, yaitu cash is king, pemegang uang tunai bagaikan seorang raja. Saat ini orang sulit mendapatkan uang tunai. Karena itu, mereka berlomba-lomba menjual aset untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat primer, di antaranya pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional seperti gaji karyawan atau THR yang memerlukan uang tunai.
Begitu pun yang terjadi pada developer, mereka akan menjual propertinya sesegera mungkin. Di sinilah peluang pemegang uang tunai berinvestasi pada waktu yang sangat tepat. Pemegang uang tunai atau biasa disebut investor bisa mendapatkan properti dengan harga murah. Biasanya developer akan mengurangi harga 25–30% dari harga normal. Bahkan, kalau kondisi developer itu sudah sangat kesulitan secara cash flow, bisa saja propertinya dijual hingga diskon 50%.
Pertimbangan lain memilih berinvestasi saat pandemi berkenaan dengan keuntungan yang diperoleh dari sisi positif investasi itu sendiri. Pertama, tidak ada sejarahnya investasi properti merugi karena nilai properti secara harga tidak memiliki kecenderungan turun, justru akan naik signifikan. Bahkan, investasi di properti bisa memiliki keuntungan antara 25–30% per tahun. (Baca juga: Begini Cara Menurunkan Perilaku Agresif Pada Anak)
Sisi positif kedua, berinvestasi di properti dapat dilakukan dengan modal antara 10–20% saja dari harga properti. Konsep ini bisa dilakukan dengan mengajukan fasilitas kredit pemilikan rumah kepada perbankan. Sebagai contoh, seandainya nilai properti seharga Rp500 juta, kita cukup menyiapkan Rp50 juta–Rp.100 juta. Walaupun hanya membayar sebesar itu, properti dapat dikuasai dan keuntungan yang timbul dapat dimanfaatkan sang investor.
Pada krisis global pandemi korona ini lahir idiom baru, yaitu cash is king, pemegang uang tunai bagaikan seorang raja. Saat ini orang sulit mendapatkan uang tunai. Karena itu, mereka berlomba-lomba menjual aset untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat primer, di antaranya pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional seperti gaji karyawan atau THR yang memerlukan uang tunai.
Begitu pun yang terjadi pada developer, mereka akan menjual propertinya sesegera mungkin. Di sinilah peluang pemegang uang tunai berinvestasi pada waktu yang sangat tepat. Pemegang uang tunai atau biasa disebut investor bisa mendapatkan properti dengan harga murah. Biasanya developer akan mengurangi harga 25–30% dari harga normal. Bahkan, kalau kondisi developer itu sudah sangat kesulitan secara cash flow, bisa saja propertinya dijual hingga diskon 50%.
Pertimbangan lain memilih berinvestasi saat pandemi berkenaan dengan keuntungan yang diperoleh dari sisi positif investasi itu sendiri. Pertama, tidak ada sejarahnya investasi properti merugi karena nilai properti secara harga tidak memiliki kecenderungan turun, justru akan naik signifikan. Bahkan, investasi di properti bisa memiliki keuntungan antara 25–30% per tahun. (Baca juga: Begini Cara Menurunkan Perilaku Agresif Pada Anak)
Sisi positif kedua, berinvestasi di properti dapat dilakukan dengan modal antara 10–20% saja dari harga properti. Konsep ini bisa dilakukan dengan mengajukan fasilitas kredit pemilikan rumah kepada perbankan. Sebagai contoh, seandainya nilai properti seharga Rp500 juta, kita cukup menyiapkan Rp50 juta–Rp.100 juta. Walaupun hanya membayar sebesar itu, properti dapat dikuasai dan keuntungan yang timbul dapat dimanfaatkan sang investor.
Lihat Juga :