Bertemu Direksi Kalla, Pemerintah Nangroe Aceh Bahas Potensi Kerja Sama
Rabu, 22 Juni 2022 - 16:43 WIB
“Alhamdulillah saat ini Kalla merupakan perusahaan keluarga yang telah berusia ke 70 tahun dan saat ini dipegang oleh generasi ketiga dari Alm Hadji Kalla dan Hj Athirah. Sejatinya hubungan kami dan Aceh sangat erat dan sebelumnya kami pernah berkontribusi membangun runway bandara Aceh saat pertama kali dibuka untuk jamaah haji dan melalui Bapak Jusuf Kalla dan Bapak Prof Hamid Awaluddin, Ph.D berkontribusi pada proses perdamaian Aceh,” sambutnya,.
Prof Hamid Awalauddin yang merupakan salah satu penasehat perusahaan mengungkapkan, hubungan kedekatan dengan Aceh bersifat historis dan emosional, tidak terlepas pada proses perdamaian saja.
“Perkembangan Islam di wilayah Sulawesi Selatan dibawa oleh alim ulama dari wilayah Aceh, yaitu Datuk ri Tiro serta dalam sejarah kerajaan Aceh, terdapat 2 raja yang berasal dari suku Bugis. Belum lagi ketika kita membahas hubungan kedekatan secara perniagaan. Oleh karena itu pertemuan ini kami harapkan semakin mendekatkan Bugis-Makassar dan Aceh khususnya pada sektor Niaga dan Investasi,” jelasnya.
Baca juga:Kalla Beton Gelar CSR Pelatihan Pertukangan Modern
Wali Nangroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tengku Malik Mahmud Al-Haytar mengaku bergembira dengan sambutan hangat Kalla. Ia pun menyambut baik peluang kerja sama dengan Kalla ke depan.
“Hubungan saya secara pribadi sangat erat, termasuk kerabat dekat saya yang salah satunya berasal Bone dan bersuku Bugis. Sejak dahulu kala, Aceh memiliki potensi yang sangat besar dari sumber daya alam. Selat Malaka menjadi jalur tersibuk di Dunia pada masanya. Perdagangan antara Eropa dan Timur Tengah serta Asia Selatan hingga ke Asia Timur pasti melalui Selat Malaka. Namun kita tidak bisa memungkiri masa penjajahan Belanda sampai Gerakan Aceh Merdeka dan Bencana Tsunami telah membuat seluruh potensi tersebut terhambat dan perkembangan ekonomi Aceh memiliki banyak challenge,” sambutnya.
Prof Hamid Awalauddin yang merupakan salah satu penasehat perusahaan mengungkapkan, hubungan kedekatan dengan Aceh bersifat historis dan emosional, tidak terlepas pada proses perdamaian saja.
“Perkembangan Islam di wilayah Sulawesi Selatan dibawa oleh alim ulama dari wilayah Aceh, yaitu Datuk ri Tiro serta dalam sejarah kerajaan Aceh, terdapat 2 raja yang berasal dari suku Bugis. Belum lagi ketika kita membahas hubungan kedekatan secara perniagaan. Oleh karena itu pertemuan ini kami harapkan semakin mendekatkan Bugis-Makassar dan Aceh khususnya pada sektor Niaga dan Investasi,” jelasnya.
Baca juga:Kalla Beton Gelar CSR Pelatihan Pertukangan Modern
Wali Nangroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tengku Malik Mahmud Al-Haytar mengaku bergembira dengan sambutan hangat Kalla. Ia pun menyambut baik peluang kerja sama dengan Kalla ke depan.
“Hubungan saya secara pribadi sangat erat, termasuk kerabat dekat saya yang salah satunya berasal Bone dan bersuku Bugis. Sejak dahulu kala, Aceh memiliki potensi yang sangat besar dari sumber daya alam. Selat Malaka menjadi jalur tersibuk di Dunia pada masanya. Perdagangan antara Eropa dan Timur Tengah serta Asia Selatan hingga ke Asia Timur pasti melalui Selat Malaka. Namun kita tidak bisa memungkiri masa penjajahan Belanda sampai Gerakan Aceh Merdeka dan Bencana Tsunami telah membuat seluruh potensi tersebut terhambat dan perkembangan ekonomi Aceh memiliki banyak challenge,” sambutnya.
Lihat Juga :