Rokok Elektrik Butuh Regulasi yang Sejalan dengan Kajian Ilmiah
Jum'at, 01 Juli 2022 - 16:21 WIB
Penggunaan dari produk-produk alternatif seperti rokok elektrik ini harus diperkuat regulasi yang sesuai dengan kajian ilmiah sebagai basis. Penelitian ini penting agar tidak timbul rumor yang beredar tanpa dasar ilmiah. Foto/Dok
JAKARTA - Nino (34), pengguna rokok elektrik (vape) di Jakarta, mengaku perokok berat sebelum memutuskan untuk beralih. Popularitas yang menanjak serta manfaat yang dirasakan oleh orang-orang terdekat membuat Nino tertarik untuk mencoba vape . Setelah penggunaan 3 bulan, ia merasa badannya lebih bugar dan batuk mulai berkurang, tidak seperti dulu.
“Pertama kali menggunakan vape karena diberitahu oleh teman. Awalnya tertarik karena katanya lebih hemat. Kalau merokok saya habis 1 bungkus per hari. Kalau vape hanya 1–2 likuid per bulan. Beli rokok bisa 800 ribu rupiah, sementara dengan vape saya hanya menghabiskan 150 ribu rupiah untuk satu likuid per bulan. Bisa hemat sampai ratusan ribu kalau pakai vape. Sekarang juga tahu kalau vape ternyata lebih rendah risiko,” kata Nino.
Baca Juga: Pakar Serukan Pentingnya Penelitian Rokok Elektrik
Beberapa studi membuktikan, bahwa vape mempunyai risiko yang lebih rendah dari rokok konvensional. Hal ini disebabkan karena cara kerja vape yang menghasilkan nikotin dalam bentuk uap/aerosol, serta minim kandungan berbahaya, seperti TAR, karena tidak melalui proses pembakaran. Nino juga mengaku tidak pernah merasakan pengalaman buruk selama beralih menggunakan vape.
“Pertama kali menggunakan vape karena diberitahu oleh teman. Awalnya tertarik karena katanya lebih hemat. Kalau merokok saya habis 1 bungkus per hari. Kalau vape hanya 1–2 likuid per bulan. Beli rokok bisa 800 ribu rupiah, sementara dengan vape saya hanya menghabiskan 150 ribu rupiah untuk satu likuid per bulan. Bisa hemat sampai ratusan ribu kalau pakai vape. Sekarang juga tahu kalau vape ternyata lebih rendah risiko,” kata Nino.
Baca Juga: Pakar Serukan Pentingnya Penelitian Rokok Elektrik
Beberapa studi membuktikan, bahwa vape mempunyai risiko yang lebih rendah dari rokok konvensional. Hal ini disebabkan karena cara kerja vape yang menghasilkan nikotin dalam bentuk uap/aerosol, serta minim kandungan berbahaya, seperti TAR, karena tidak melalui proses pembakaran. Nino juga mengaku tidak pernah merasakan pengalaman buruk selama beralih menggunakan vape.
Lihat Juga :