Profil Shinzo Abe, Perdana Menteri Terlama Jepang yang Tewas Ditembak

Jum'at, 08 Juli 2022 - 17:44 WIB
Kembali menduduki jabatan, Abe dinobatkan sebagai menjadi perdana menteri terlama di Jepang pada November 2019. Dia kemudian meluncurkan strategi "Abenomics" dengan tiga cabang untuk mengalahkan deflasi yang terus-menerus dan menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi dengan kebijakan moneter yang sangat mudah dan pengeluaran fiskal, bersama dengan reformasi struktural untuk mengatasi populasi yang cepat menua dan menyusut.

Namun, strategi pertumbuhannya terancam pada 2019 akibat kenaikan pajak penjualan dan perang perdagangan China-AS. Tidak hanya itu, pandemi COVID-19 pada tahun berikutnya juga memicu kemerosotan ekonomi terdalam di Jepang. Hal ini mengakibatkan dukungan untuknya mulai menipis karena penanganannya terhadap wabah COVID-19 serta serangkaian skandal termasuk penangkapan mantan menteri kehakimannya.

Dia kemudian mengundurkan diri pada bulan September tahun 2020 tanpa mencapai tujuannya yang telah lama dipegangnya untuk merevisi konstitusi atau memimpin Olimpiade, yang telah ditunda hingga 2021 karena pandemi.

Saat awal pandemi, Abe meluangkan waktu untuk menutup perbatasan Jepang dan menerapkan keadaan darurat yang mendesak orang untuk tinggal di rumah dan penutupan toko-toko. Para kritikus awalnya mencap tanggapan itu canggung dan kemudian menyalahkan Abe karena kurangnya kepemimpinan.

Namun saat dia mengundurkan diri dengan alasan penyakit usus yang sama, tercatat tingkat kematian COVID-19 Jepang jauh di bawah banyak negara maju lainnya. Padahal Sosok Shinzo Abe dikenal sangat berusaha keras melalui usahanya mengangkat perekonomian dengan kebijakan "Abenomics" yang berani, memperkuat militer dan melawan pengaruh China yang berkembang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!