Setahun Kelola Blok Rokan, PHR Incar Produksi 170.000 BOPD di Akhir 2022
Kamis, 18 Agustus 2022 - 15:20 WIB
Jaffe mengatakan, peningkatan produksi di Blok Rokan merupakan hal yang patut disyukuri lantaran sudah hampir satu dekade ini tidak ada peningkatan produksi dari wilayah kerja tersebut. "Kita lawan penurunan 26% itu. Akhir Juli naik produksi dibandingkan saat alih kelola. Agustus naik 2,6%. Kalau kita lihat beberapa dekade terakhir, ini terakhir kali produksi naik," jelasnya.
Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi PAN Eddy Soeparno dalam webinar tersebut mengakui bahwa Pertamina tetap akan menjadi tumpuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi. Sejak Blok Rokan diambil alih, kontribusi Pertamina terhadap produksi minyak nasional sudah mencapai 60%. Semua itu, kata dia, dicapai melalui tantangan yang tidak kecil, mengingat sebagian besar lapangan migas di Indonesia sudah tidak lagi berada pada fase meningkatkan produksi tetapi pada fase mempertahankan tingkat produksi dan menahan laju penurunan produksi alamiah yang terus meningkat setiap tahunnya.
"Ini saya kira tantangan tersendiri ke depan bagaimana Pertamina bisa ikut mendukung peningkatna produksi migas nasional. Karena, meski hari ini kita bicara tentang EBT (energi baru terbarukan) karena proses transformasi energi tidak terelakkan, dalam waktu cukup lama kita masih akan tetap mengandalkan energi fosil," tegasnya.
Hal senada dikatakan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya W Yudha bahwa meski Indonesia tengah menuju ke penggunaan EBT secara maksimal, namun energi fosil tidak serta merta langsung ditinggalkan. Kebutuhan akan minyak menurutnya masih sangat besar dan Blok Rokan akan tetap menjadi salah satu tumpuan produksi.
Dalam hal ini, kata dia, setidaknya PHR dalam mengelola Blok Rokan bisa mengupayakan penurunan emisi dalam proses poduksinya. "Apa yang dilakukan oleh Rokan di kemudian hari tentunya ada partisipasi dari teknologi yang dipakai mengurangi emisi karbon ada beberapa tahapan dari hulu migas mulai dari eksplorasi sampai proses sampai pengangkutan semua punya faktor-faktor yang bisa dikecilkan dan emisinya," ujarnya.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan, saat ini sekitar 70% wilayah kerja (WK) migas produksi di Indonesia telah mengalami penurunan produksi alamiah. Kondisi tersebut juga tercermin dari target lifting migas di APBN yang seringkali tidak tercapai. Data ReforMiner Insititute memperlihatkan bahwa 52% WK migas produksi migas di Indonesia merupakan lapangan tua (mature field).
Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi PAN Eddy Soeparno dalam webinar tersebut mengakui bahwa Pertamina tetap akan menjadi tumpuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi. Sejak Blok Rokan diambil alih, kontribusi Pertamina terhadap produksi minyak nasional sudah mencapai 60%. Semua itu, kata dia, dicapai melalui tantangan yang tidak kecil, mengingat sebagian besar lapangan migas di Indonesia sudah tidak lagi berada pada fase meningkatkan produksi tetapi pada fase mempertahankan tingkat produksi dan menahan laju penurunan produksi alamiah yang terus meningkat setiap tahunnya.
"Ini saya kira tantangan tersendiri ke depan bagaimana Pertamina bisa ikut mendukung peningkatna produksi migas nasional. Karena, meski hari ini kita bicara tentang EBT (energi baru terbarukan) karena proses transformasi energi tidak terelakkan, dalam waktu cukup lama kita masih akan tetap mengandalkan energi fosil," tegasnya.
Hal senada dikatakan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya W Yudha bahwa meski Indonesia tengah menuju ke penggunaan EBT secara maksimal, namun energi fosil tidak serta merta langsung ditinggalkan. Kebutuhan akan minyak menurutnya masih sangat besar dan Blok Rokan akan tetap menjadi salah satu tumpuan produksi.
Dalam hal ini, kata dia, setidaknya PHR dalam mengelola Blok Rokan bisa mengupayakan penurunan emisi dalam proses poduksinya. "Apa yang dilakukan oleh Rokan di kemudian hari tentunya ada partisipasi dari teknologi yang dipakai mengurangi emisi karbon ada beberapa tahapan dari hulu migas mulai dari eksplorasi sampai proses sampai pengangkutan semua punya faktor-faktor yang bisa dikecilkan dan emisinya," ujarnya.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan, saat ini sekitar 70% wilayah kerja (WK) migas produksi di Indonesia telah mengalami penurunan produksi alamiah. Kondisi tersebut juga tercermin dari target lifting migas di APBN yang seringkali tidak tercapai. Data ReforMiner Insititute memperlihatkan bahwa 52% WK migas produksi migas di Indonesia merupakan lapangan tua (mature field).
Lihat Juga :