Berani Berinovasi, Peluang Usaha Terbuka
Rabu, 01 Juli 2020 - 06:56 WIB
Chief Economist Bank BTN Winang Budoyo mengatakan, solusi tekanan ekonomi saat ini sangat tergantung seberapa cepat vaksin bisa diakses di tengah masyarakat. Namun, dia memprediksi vaksin sepertinya baru bisa diakses hingga tahun depan.
Di sisi lain, tidak mungkin juga pemerintah memberlakukan PSBB terus-menerus sehingga solusi jangka pendek masyarakat harus beradaptasi, khususnya dalam perekonomian dan bisnis. “Kita harus tetap disiplin supaya ekonomi bisa jalan. Kuartal tiga sepertinya bisa naik, tapi tidak drastis dan ini akan berlanjut hingga nanti tahun 2021,” Winang menambahkan. (Baca juga: Kisruh PPDB, DPR Minta Kemendikbud Atur Lebih Rinci)
Dia juga mengingatkan pelonggaran PSBB diikuti risiko munculnya gelombang kedua atau second wave pandemi seperti banyak dikhawatirkan banyak pihak. Karena itu, harus ada disiplin semua pihak karena dikhawatirkan dengan gelombang kedua akan memaksa diberlakukan karantina yang diperketat. “Risiko gelombang kedua harus diwaspadai supaya kegiatan ekonomi tidak kembali dibatasi,” ujarnya.
Founder Batik Trusmi Sally Giovanny mengakui kreativitas membaca kebutuhan konsumen sangat diperlukan pelaku UMKM, khususnya di tengah kondisi seperti sekarang. Dia bercerita sempat menutup gerai batiknya di bulan Maret setelah ada kebijakan PSBB. Namun, bulan berikutnya dia langsung memutuskan untuk berinovasi dengan mengalihkan fokus bisnisnya menjual produk masker kain bercorak batik dan jaket pelindung dengan motif batik. (Baca juga: Paksa Muslim Uighur Laukan Aborsi, AS Kecam China)
Jaket pelindung tersebut menyasar kebutuhan pekerja yang ingin tetap bergaya, namun terlindungi saat perjalanan ke kantor dan pulang dari kantor. “Kami tutup sebulan untuk melindungi karyawan dan memikirkan strategi. Tidak ada karyawan kena PHK karena yang dirumahkan kami kerahkan untuk menjadi penjual masker batik dan jaket pelindung dengan motif batik. Mereka berjualan online di rumah,” ujar Sally menceritakan.
Sally yakin, di saat pandemi ini pun masih ada daya beli di masyarakat. Pelaku UMKM harus tahu mau jualan apa atau mencari produk apa yang bisa dikembangkan. Pelaku UMKM disarankan melirik barang kebutuhan pokok, misalnya dengan menjual frozen food.
Kebutuhan lain yang laris seperti personal care, multivitamin, suplemen, hand sanitizer, masker, bahkan APD, masih memiliki peluang besar. “Terbukti respons pasar sangat bagus saat kami berjualan masker corak batik. Lalu, ini juga saatnya memperkuat jaringan penjualan online bagi para pelaku UMKM,” ujar Sally.
Di sisi lain, tidak mungkin juga pemerintah memberlakukan PSBB terus-menerus sehingga solusi jangka pendek masyarakat harus beradaptasi, khususnya dalam perekonomian dan bisnis. “Kita harus tetap disiplin supaya ekonomi bisa jalan. Kuartal tiga sepertinya bisa naik, tapi tidak drastis dan ini akan berlanjut hingga nanti tahun 2021,” Winang menambahkan. (Baca juga: Kisruh PPDB, DPR Minta Kemendikbud Atur Lebih Rinci)
Dia juga mengingatkan pelonggaran PSBB diikuti risiko munculnya gelombang kedua atau second wave pandemi seperti banyak dikhawatirkan banyak pihak. Karena itu, harus ada disiplin semua pihak karena dikhawatirkan dengan gelombang kedua akan memaksa diberlakukan karantina yang diperketat. “Risiko gelombang kedua harus diwaspadai supaya kegiatan ekonomi tidak kembali dibatasi,” ujarnya.
Founder Batik Trusmi Sally Giovanny mengakui kreativitas membaca kebutuhan konsumen sangat diperlukan pelaku UMKM, khususnya di tengah kondisi seperti sekarang. Dia bercerita sempat menutup gerai batiknya di bulan Maret setelah ada kebijakan PSBB. Namun, bulan berikutnya dia langsung memutuskan untuk berinovasi dengan mengalihkan fokus bisnisnya menjual produk masker kain bercorak batik dan jaket pelindung dengan motif batik. (Baca juga: Paksa Muslim Uighur Laukan Aborsi, AS Kecam China)
Jaket pelindung tersebut menyasar kebutuhan pekerja yang ingin tetap bergaya, namun terlindungi saat perjalanan ke kantor dan pulang dari kantor. “Kami tutup sebulan untuk melindungi karyawan dan memikirkan strategi. Tidak ada karyawan kena PHK karena yang dirumahkan kami kerahkan untuk menjadi penjual masker batik dan jaket pelindung dengan motif batik. Mereka berjualan online di rumah,” ujar Sally menceritakan.
Sally yakin, di saat pandemi ini pun masih ada daya beli di masyarakat. Pelaku UMKM harus tahu mau jualan apa atau mencari produk apa yang bisa dikembangkan. Pelaku UMKM disarankan melirik barang kebutuhan pokok, misalnya dengan menjual frozen food.
Kebutuhan lain yang laris seperti personal care, multivitamin, suplemen, hand sanitizer, masker, bahkan APD, masih memiliki peluang besar. “Terbukti respons pasar sangat bagus saat kami berjualan masker corak batik. Lalu, ini juga saatnya memperkuat jaringan penjualan online bagi para pelaku UMKM,” ujar Sally.
Lihat Juga :