Wajarkah Harga BBM Subsidi Harus Naik di Tengah Lonjakan Minyak Dunia?
Minggu, 28 Agustus 2022 - 10:31 WIB
Harga minyak mentah dunia yang terkerek naik hingga di atas USD100 per barel dinilai berpotensi menguras keuangan negara, lantaran itu harga BBM bersubsidi sudah selayaknya ditinjau ulang. Foto/Dok
JAKARTA - Harga minyak mentah dunia yang terkerek naik hingga di atas USD100 per barel dinilai berpotensi menguras keuangan negara , lantaran harus mengucurkan ratusan triliun untuk subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak). Lantaran itu pemerintah dinilai sudah selayaknya memikirkan ulang harga BBM bersubsidi yang berlaku saat ini.
"Wajar apabila harga BBM bersubsidi ini ditinjau kembali, sebab kenaikan harga minyak dunia berpotensi menguras keuangan negara apabila penyesuaian harga BBM bersubsidi tak dilakukan," ujar Direktur Eksekutif Moya Institute, Hery Sucipto dalam Webinar Moya Institute bertajuk Kenaikan BBM Apakah Suatu Keharusan? di Jakarta, Sabtu (27/8).
Baca Juga: Kisruh Harga BBM, Rektor UI Tawarkan Konsep The Golden Mid-Way dengan Kenaikan 40%
Apalagi sambung Hery Sucipto, banyak pihak yang menilai subsidi BBM ini 'bocor' atau tidak tepat sasaran. Sehingga diperlukan rumusan kebijakan subsidi yang tepat agar tepat sasaran.
"Jangan sampai subsidi dinikmati justru oleh orang-orang kelas menengah keatas, yang sejatinya bukan kalangan yang berhak mendapatkan subsidi," ujarnya.
"Wajar apabila harga BBM bersubsidi ini ditinjau kembali, sebab kenaikan harga minyak dunia berpotensi menguras keuangan negara apabila penyesuaian harga BBM bersubsidi tak dilakukan," ujar Direktur Eksekutif Moya Institute, Hery Sucipto dalam Webinar Moya Institute bertajuk Kenaikan BBM Apakah Suatu Keharusan? di Jakarta, Sabtu (27/8).
Baca Juga: Kisruh Harga BBM, Rektor UI Tawarkan Konsep The Golden Mid-Way dengan Kenaikan 40%
Apalagi sambung Hery Sucipto, banyak pihak yang menilai subsidi BBM ini 'bocor' atau tidak tepat sasaran. Sehingga diperlukan rumusan kebijakan subsidi yang tepat agar tepat sasaran.
"Jangan sampai subsidi dinikmati justru oleh orang-orang kelas menengah keatas, yang sejatinya bukan kalangan yang berhak mendapatkan subsidi," ujarnya.
Lihat Juga :