Mengungkap Strategi Holding Perkebunan Nusantara Melakukan Transformasi Bisnis
Senin, 12 September 2022 - 17:05 WIB
Nantinya, sub holding PalmCo akan menjadi perusahaan kelapa sawit terbesar dan menjadi pemain utama industri sawit dunia, dengan target produksi sebanyak 1,8 juta ton per tahun pada 2026. “Sub-holding ini menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan, serta kapasitas produksi komoditas olahan sawit, termasuk hasil panen tandan buah segar (TBS), serta kapasitas produksi crude palm oil (CPO), minyak nabati, dan minyak goreng,” kata Abdul Ghani.
Hal yang sama juga akan dilakukan di PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau sub holding SugarCo. Nantinya, 36 pabrik gula yang sebelumnya dikelola masing-masing anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara akan dipegang perusahaan tersebut. “Perusahaan ini bertugas mengembangkan, mengoperasionalkan dan mengoptimalkan aset perseroan untuk mewujudkan swasembada gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP) nasional,” papar Abdul Ghani.
Sementara sub holding Supporting Company akan mengurus bisnis yang tidak dikelola PalmCo dan SugarCo guna meningkatkan finansial dari bisnis lain, serta inkubasi bisnis-bisnis baru seperti properti dan green bisnis. Nantinya, kata Abdul Ghani, areal kelapa sawit dan karet di SupportingCo, akan ditransfer secara bertahap ke PalmCo.
“Pengalihan aset bergantung pada realisasi rencana penciptaan nilai. Tata waktu indikatif, berdasarkan profitabilitas," tegasnya.
Baca juga: Prihatin Ketika Tinjau Akademi Militer Vietnam, Jenderal Kopassus Ini Berbalik Dibikin Tercengang
Lebih lanjut Abdul Ghani mengatakan, nantinya manajemen PTPN Group akan mengonsolidasikan seluruh aset, baik berupa lahan, sumber daya manusia (SDM), pabrik, mesin dan kemitraan dengan petani. Langkah konsolidasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas portofolio permodalan dan keuangan perseroan.
“Manajemen PTPN Group menargetkan konsolidasi ini selesai pada akhir 2022,” pungkas Abdul Ghani.
Hal yang sama juga akan dilakukan di PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau sub holding SugarCo. Nantinya, 36 pabrik gula yang sebelumnya dikelola masing-masing anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara akan dipegang perusahaan tersebut. “Perusahaan ini bertugas mengembangkan, mengoperasionalkan dan mengoptimalkan aset perseroan untuk mewujudkan swasembada gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP) nasional,” papar Abdul Ghani.
Sementara sub holding Supporting Company akan mengurus bisnis yang tidak dikelola PalmCo dan SugarCo guna meningkatkan finansial dari bisnis lain, serta inkubasi bisnis-bisnis baru seperti properti dan green bisnis. Nantinya, kata Abdul Ghani, areal kelapa sawit dan karet di SupportingCo, akan ditransfer secara bertahap ke PalmCo.
“Pengalihan aset bergantung pada realisasi rencana penciptaan nilai. Tata waktu indikatif, berdasarkan profitabilitas," tegasnya.
Baca juga: Prihatin Ketika Tinjau Akademi Militer Vietnam, Jenderal Kopassus Ini Berbalik Dibikin Tercengang
Lebih lanjut Abdul Ghani mengatakan, nantinya manajemen PTPN Group akan mengonsolidasikan seluruh aset, baik berupa lahan, sumber daya manusia (SDM), pabrik, mesin dan kemitraan dengan petani. Langkah konsolidasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas portofolio permodalan dan keuangan perseroan.
“Manajemen PTPN Group menargetkan konsolidasi ini selesai pada akhir 2022,” pungkas Abdul Ghani.
(uka)
Lihat Juga :