Kopi Luwak Pertama di Kaltim Siap Menerobos Pasar
Minggu, 06 November 2022 - 20:05 WIB
Jumlah anggota kelompok tani sebanyak 34 orang. Sejak 2021 lalu, anggota kelompok tani tersebut menanam 4.070 bibit kopi liberika seluas 4 hektare (ha) di lahan milik 15 anggota. Satu pohon kopi menghasilkan 1 kilogram (kg) kopi setiap tahun yang sudah disangrai dengan harga jual per 100 ons mencapai Rp 800.000.
"Kami yakin kampung kopi mampu menjadi produsen kopi yang khas Kalimantan, apabila kopi ini di kelola dengan cara yang baik dan benar akan mendatangkan keseJahteraan bagi para petani," kata Ketua Kelompok Tani Kapak Prabu Rindoni saat ditemui SINDOnews, di Kampung Kopi Luwak, Prangat Baru, Marangkayu, Kukar, Kaltim, baru-baru ini.
Dari merawat kopI, Rindoni berhasil mengantarkan ketiga anaknya untuk meraih gelar sarjana. Berbekal pengalaman yang dimiliki konsisten menghasilkan Kopi Luwak pertama di pulau Borneo. Rindoni optimistis kopi yang dihasilkannya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
PHKT banyak membantu mulai dari menanam bibit, pemberian pupuk, hingga peningkatan skill roasting hingga jadi barista, pengemasan hingga pemasaran produk. Ia pun berharap kopi berjuluk Kapak Prabu bisa dipasarkan secara digital sehingga bisa menembus pasar lebih luas. "Kami telah mengirim kopi hasil panen ke Jawa dan Sumatra tapi jumlahnya masih beberapa kilo saja," kata dia.
Kepala Desa Prangat Baru Fitriati mengungkapkan bahwa semula petani kopi di desa ini adalah petani karet. Namun, lantaran harga karet turun karena ditentukan oleh tengkulak membuat petani menjadi makin sengsara. "Harga karet turun menjadi Rp 4.000 per kg dari semula mencapai Rp 14.000 per kg. Harapannya, program kopi ini bisa memberikan nilai tambah," jelasnya.
"Kami yakin kampung kopi mampu menjadi produsen kopi yang khas Kalimantan, apabila kopi ini di kelola dengan cara yang baik dan benar akan mendatangkan keseJahteraan bagi para petani," kata Ketua Kelompok Tani Kapak Prabu Rindoni saat ditemui SINDOnews, di Kampung Kopi Luwak, Prangat Baru, Marangkayu, Kukar, Kaltim, baru-baru ini.
Dari merawat kopI, Rindoni berhasil mengantarkan ketiga anaknya untuk meraih gelar sarjana. Berbekal pengalaman yang dimiliki konsisten menghasilkan Kopi Luwak pertama di pulau Borneo. Rindoni optimistis kopi yang dihasilkannya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
PHKT banyak membantu mulai dari menanam bibit, pemberian pupuk, hingga peningkatan skill roasting hingga jadi barista, pengemasan hingga pemasaran produk. Ia pun berharap kopi berjuluk Kapak Prabu bisa dipasarkan secara digital sehingga bisa menembus pasar lebih luas. "Kami telah mengirim kopi hasil panen ke Jawa dan Sumatra tapi jumlahnya masih beberapa kilo saja," kata dia.
Kepala Desa Prangat Baru Fitriati mengungkapkan bahwa semula petani kopi di desa ini adalah petani karet. Namun, lantaran harga karet turun karena ditentukan oleh tengkulak membuat petani menjadi makin sengsara. "Harga karet turun menjadi Rp 4.000 per kg dari semula mencapai Rp 14.000 per kg. Harapannya, program kopi ini bisa memberikan nilai tambah," jelasnya.
Lihat Juga :