Eropa Bersandar kepada Asia untuk Kebutuhan Baterai Mobil Listrik

Jum'at, 11 November 2022 - 13:28 WIB
"Anda melihat enam tahun sebelum Anda memiliki penjualan yang nyata, jadi dari mana Anda mendapatkan USD5 miliar ditambah biaya operasi tanpa pesanan?" sambungnya.

Itu sebabnya sejumlah startup Eropa mengambil rute yang lebih lambat, membangun pabrik yang lebih kecil dan lebih murah dengan kapasitas di bawah 1 gigawatt-jam (GWh) - atau yang dijuluki sebagai "megafactories" - untuk memproduksi sel dalam skala besar dan kemudian memenangkan kontrak dari produsen mobil.

Startup baterai Prancis Verkor, misalnya, mengumumkan pada hari Rabu bahwa mereka telah mengumpulkan 250 juta euro (USD 249 juta) untuk mendanai megafactory.

Kepala Eksekutif Benoit Lemaignan menggambarkannya sebagai "langkah bayi", sebelum perusahaan mulai mengumpulkan dana untuk gigafactory 1,6 miliar euro 16 GWh yang akan dibuka pada tahun 2025 dan akan memasok pembuat mobil Prancis Renault.

PANGSA PASAR ASIA

Uni Eropa, yang meluncurkan Aliansi Baterai Eropa pada tahun 2017 untuk memulai industri dalam negeri, ingin perusahaan di kawasan itu menyediakan 90% baterai yang dibutuhkan pada tahun 2030 untuk mendukung transisi energi di benua biruit.

Dalam hal baterai kendaraan listrik (EV), Benchmark Mineral Intelligence (BMI) memperkirakan bahwa Eropa harus memiliki kapasitas produksi 1.200 GWh pada tahun 2031 jika rencana saat ini membuahkan hasil, melampaui permintaan yang diharapkan sebesar 875 GWh.

Tetapi dari 1.200 GWh itu, 44% akan disediakan oleh perusahaan-perusahaan Asia dengan pabrik-pabrik di Eropa, merka berada di depan perusahaan-perusahaan dalam negeri dengan persentasensebesar 43% dan Tesla dengan 13%, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data BMI.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!