Singapura Resesi, Warning bagi Ekonomi Indonesia
Selasa, 14 Juli 2020 - 11:46 WIB
loading...
Resesi yang terjadi di Singapura disebut menjadi peringatan nyata bagi perekonomian di dalam negeri. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudistira menilai resesi yang telah menghinggapi ekonomi Singapura menjadi peringatan bagi Indonesia. Resesi yang terjadi di negara tetangga itu setidaknya bakal menekan sektor perdagangan dalam negeri.
Sebagai informasi, ekonomi Singapura masuk resesi, setelah pertumbuhan ekonomi negara tersebut minus 41,2% pada kuartal II/2020 akibat dampak pandemi virus corona.
(Baca Juga: Ekonomi Minus 41,2%, Singapura Terjun ke Jurang Resesi)
Departemen Perdagangan dan Industri menyatakan, produk domestik bruto (PDB) Singapura sebagian besar dihitung dari data bulan April dan Mei. Resesi didefinisikan jika pertumbuhan dua kuartal berturut-turut mengalami minus. Tercatat, pada kuartal I/2020, ekonomi Singapura minus 3,3%. Dengan demikian, Singapura resmi terpuruk ke dalam jurang resesi.
"Singapura menjadi hubungan perdagangan dan investasi yang cukup penting bagi Indonesia. Indikasi resesi Singapura menjadi warning bagi Indonesia bahwa kinerja perdagangan akan terkontraksi cukup dalam," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Selasa (14/7/2020).
Sebagai informasi, ekonomi Singapura masuk resesi, setelah pertumbuhan ekonomi negara tersebut minus 41,2% pada kuartal II/2020 akibat dampak pandemi virus corona.
(Baca Juga: Ekonomi Minus 41,2%, Singapura Terjun ke Jurang Resesi)
Departemen Perdagangan dan Industri menyatakan, produk domestik bruto (PDB) Singapura sebagian besar dihitung dari data bulan April dan Mei. Resesi didefinisikan jika pertumbuhan dua kuartal berturut-turut mengalami minus. Tercatat, pada kuartal I/2020, ekonomi Singapura minus 3,3%. Dengan demikian, Singapura resmi terpuruk ke dalam jurang resesi.
"Singapura menjadi hubungan perdagangan dan investasi yang cukup penting bagi Indonesia. Indikasi resesi Singapura menjadi warning bagi Indonesia bahwa kinerja perdagangan akan terkontraksi cukup dalam," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Selasa (14/7/2020).
Lihat Juga :