Jelang 1 Tahun Perang Rusia Ukraina: Rusaknya Hubungan Gas Moskow dan Eropa yang Tak Mungkin Pulih

Selasa, 21 Februari 2023 - 08:34 WIB
loading...
A A A
Kepala unit ekspor Gazprom, Elena Burmistrova mengatakan, dalam sebuah acara industri di Wina pada tahun 2019 bahwa rekor ekspor tertinggi perusahaan di luar Uni Soviet lebih dari 200 miliar meter kubik (bcm) yang dicapai pada tahun 2018 adalah "kenyataan baru". Sementara tahun lalu, totalnya hanya di atas 100 bcm.

Disamping itu kapasitas pengangkutan Rusia mengalami kerusakan tahun lalu setelah ledakan misterius di Laut Baltik di pipa Nord Stream dari Rusia ke Jerman. Rusia dan Barat saling menyalahkan atas ledakan itu.

Reporter AS pemenang Hadiah Pulitzer, Seymour Hersh dalam sebuah blog mengatakan, Amerika Serikat bertanggung jawab, lalu disanggah yang menurut Amerika Serikat 'sepenuhnya salah'.

Washington telah lama mengkritik kebijakan Jerman yang bergantung pada energi Rusia, yang hingga tahun lalu, Berlin mengatakan sebagai sarana untuk meningkatkan hubungan.

KESEPAKATAN ABAD KE-20

Untuk diketahui bahwa Putin telah berusaha untuk mendiversifikasi pasar gas Rusia jauh sebelum tahun lalu, tetapi kebijakan tersebut masih mencari momentum. Pada bulan Oktober, ia memperdebatkan gagasan tentang pusat gas di Turki untuk mengalihkan aliran gas Rusia dari Laut Baltik dan Eropa Barat Laut.

Rusia juga berupaya meningkatkan penjualan gas pipanya ke China, konsumen energi terbesar di dunia dan pembeli utama minyak mentah, gas alam cair (LNG) hingga batu bara.

Pasokan dimulai melalui pembangunan Power of Siberia Pipeline pada akhir 2019 dan Rusia bertujuan untuk meningkatkan ekspor tahunan menjadi sekitar 38 bcm mulai 2025.

Moskow juga memiliki perjanjian dengan Beijing untuk 10 bcm per tahun dari pipa yang belum dibangun dari pulau Pasifik Sakhalin. Secara bersamaan Rusia juga sedang mengembangkan rencana untuk Power of Siberia 2 dari Siberia Barat, yang secara teori dapat memasok tambahan 50 bcm per tahun ke China.

Apakah hubungan itu bisa sama menguntungkannya dengan satu dekade memasok gas ke Eropa masih harus dilihat dan dibuktikan.

Aset terpenting Gazprom terletak di Siberia Barat dan wilayah Yamal Arktik yang lebih luas, tempat kota Novy Yengoy dengan 100.000 orang. Dimana mereka yang merayakan ulang tahunnya yang ke-50 pada tahun 2025, menampung pekerja musiman di blok utilitarian bertingkat tinggi.

Salah satu ladang di daerah tundra, sekitar 3.500 kilometer (2.175 mil) timur laut Moskow, tempat mereka bekerja adalah Urengoy.

Setelah penemuan lapangan, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia pada tahun 1966, Politbiro Soviet memulai pembicaraan dengan Jerman Barat tentang pertukaran gas dengan pipa, karena Rusia saat itu tidak memiliki teknologi produksi.

Perjanjian yang dihasilkan dijuluki "kontrak abad ini" diselesaikan pada tahun 1970 setelah Menteri Luar Negeri Soviet saat itu Andrei Gromyko, yang dijuluki "Tuan Nyet" di Barat karena pendekatannya yang tanpa kompromi, mengatakan "da" soal kesepakatan gas-untuk-pipa, yang melibatkan pasokan alat berat untuk Moskow serta gas untuk Eropa.

Kesepakatan pasokan 20 tahun bernilai sekitar USD30 miliar dengan harga gas saat ini.

Ini berarti bahwa selama beberapa dekade, Eropa dan terutama Jerman, mendapat manfaat dari kontrak jangka panjang yang relatif murah, dan mengandalkan gas alam Rusia, atau metana, untuk memanaskan rumah tangga dan sebagai bahan baku bagi industri petrokimia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Rekomendasi
2 Fakta Stasiun JIS:...
2 Fakta Stasiun JIS: Hanya Miliki Satu Peron dan Beroperasi hingga Pukul 21.30 WIB
Qodari: Haji 2026 Lancar,...
Qodari: Haji 2026 Lancar, Masa Tunggu Dipangkas dan Layanan Ditingkatkan
Messi Menyala! Argentina...
Messi Menyala! Argentina Tundukkan Austria 2-0
Berita Terkini
Jaga HET MinyaKita di...
Jaga HET MinyaKita di Angka Rp15.700 per Liter, Istana Buka Suara
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Infografis
Tentara China Ikut Perang...
Tentara China Ikut Perang Bantu Rusia Melawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved