Peningkatan Produksi Minyak China Beri Angin Segar Industri Pelayaran RI
Kamis, 16 Juli 2020 - 10:58 WIB
loading...
A
A
A
Dinamika ini tercermin dalam tingkat TCE yang melonjak di kuartal kedua 2020 dari tarif sewa rata-rata yang sudah cukup tinggi pada kuartal pertama tahun 2020. TCE rata-rata untuk kapal tanker Long Range 2 (LR2) (kapal tanker ukuran sekitar 110,0000 DWT) meningkat sebesar 74,8% sedangkan TCE rata-rata untuk kapal tanker Handy (kapal tanker ukuran sekitar 30,000 - 40,000 DWT) turun menjadi 11,6%, sejalan dengan tren sebagian besar permintaan penyimpanan minyak terapung terkonsentrasi di segmen kapal tanker yang lebih besar.
Namun dampak Covid-19 lebih luas daripada hanya pada konsumsi dan produksi minyak. Karena sebagian besar ekonomi dunia memasuki masa lockdown dan pelabuhan-pelabuhan tidak beroperasi, termasuk semua negara pembangun kapal dan reparasi kapal terbesar, seperti China, Korea, Jepang, Singapura, yang menyebabkan penundaan pengiriman kapal baru yang sedang dibangun serta docking pemeliharaan yang diharuskan berdasarkan peraturan.
"Hal ini mengakibatkan antrian besar kapal yang harus melaksanakan docking pemeliharaan dan berhenti kerja sampai lebih dari 30 hari dalam beberapa bulan ke depan, setara dengan 5% dari armada tanker global. Bahkan selama Juni saja jumlah kapal yang sedang melaksanakan docking pemeliharaan 84% lebih banyak daripada di bulan Mei 2020. Sebanyak enam VLCC sedang melaksanakan docking pemeliharaan selama Juni dibandingkan dengan hanya satu pada bulan Mei," paparnya.
Baca Juga: Pertamina Gandeng 3 BUMN Galangan Kapal Genjot TKDN
Lockdown Covid-19 juga menutup semua galangan scrap kapal, sehingga banyak kapal yang terpaksa tetap dioperasikan, padahal seharusnya dibesi-tuakan. Ketika galangan scrap kapal di Asia Selatan mulai dibuka, ini akan memungkinkan sebanyak 3,1 juta DWT kapal yang sudah tua dan tidak efisien dikeluarkan dari armada kapal tanker yang beroperasi dan dibesi-tuakan menurut perkiraan Braemar ACM.
Pemulihan permintaan minyak China yang cepat yang telah mengakibatkan permintaan minyak melonjak menjadi 13 juta barel per hari pada kuartal kedua dan diperkirakan akan lebih tinggi lagi year on year (yoy) mulai kuartal ketiga 2020 dan seterusnya dibandingkan dengan 2019, menurut Wood Mackenzie, telah menyebabkan kepadatan pelabuhan yang parah dengan jumlah kapal yang menunggu untuk membongkar muatan mereka meningkat dari kurang dari 10 kapal pada bulan April menjadi lebih dari 70 kapal pada bulan Juni. Situasi ini diperkirakan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan karena impor China yang tetap kuat.
Namun dampak Covid-19 lebih luas daripada hanya pada konsumsi dan produksi minyak. Karena sebagian besar ekonomi dunia memasuki masa lockdown dan pelabuhan-pelabuhan tidak beroperasi, termasuk semua negara pembangun kapal dan reparasi kapal terbesar, seperti China, Korea, Jepang, Singapura, yang menyebabkan penundaan pengiriman kapal baru yang sedang dibangun serta docking pemeliharaan yang diharuskan berdasarkan peraturan.
"Hal ini mengakibatkan antrian besar kapal yang harus melaksanakan docking pemeliharaan dan berhenti kerja sampai lebih dari 30 hari dalam beberapa bulan ke depan, setara dengan 5% dari armada tanker global. Bahkan selama Juni saja jumlah kapal yang sedang melaksanakan docking pemeliharaan 84% lebih banyak daripada di bulan Mei 2020. Sebanyak enam VLCC sedang melaksanakan docking pemeliharaan selama Juni dibandingkan dengan hanya satu pada bulan Mei," paparnya.
Baca Juga: Pertamina Gandeng 3 BUMN Galangan Kapal Genjot TKDN
Lockdown Covid-19 juga menutup semua galangan scrap kapal, sehingga banyak kapal yang terpaksa tetap dioperasikan, padahal seharusnya dibesi-tuakan. Ketika galangan scrap kapal di Asia Selatan mulai dibuka, ini akan memungkinkan sebanyak 3,1 juta DWT kapal yang sudah tua dan tidak efisien dikeluarkan dari armada kapal tanker yang beroperasi dan dibesi-tuakan menurut perkiraan Braemar ACM.
Pemulihan permintaan minyak China yang cepat yang telah mengakibatkan permintaan minyak melonjak menjadi 13 juta barel per hari pada kuartal kedua dan diperkirakan akan lebih tinggi lagi year on year (yoy) mulai kuartal ketiga 2020 dan seterusnya dibandingkan dengan 2019, menurut Wood Mackenzie, telah menyebabkan kepadatan pelabuhan yang parah dengan jumlah kapal yang menunggu untuk membongkar muatan mereka meningkat dari kurang dari 10 kapal pada bulan April menjadi lebih dari 70 kapal pada bulan Juni. Situasi ini diperkirakan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan karena impor China yang tetap kuat.
Lihat Juga :