PGE Siap Optimalkan Sumber Pendapatan Baru dari Carbon Credit

Sabtu, 01 April 2023 - 00:19 WIB
loading...
PGE Siap Optimalkan...
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) area Karaha menjadi salah satu sumber pendapatan baru PGE berupa kredit karbon. Foto/Dok. PGE
A A A
JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan pendapatan baru dari kredit karbon (carbon credit) senilai USD747.000 atau sekitar Rp11,2 miliar (kurs Rp15.000 per USD). Pendapatan baru tersebut bersumber dari dua pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yaitu Ulubelu unit 3 dan 4 serta Karaha.

Kedua PLTP tersebut menghasilkan setara 1,7 juta ton pengurangan emisi karbon yang dihitung semenjak pembangkitan tersebut beroperasi secara komersial hingga awal tahun 2020. Direktur Utama PGE Achmad Yuniarto mengatakan, PGE juga mencatatkan potensi pengurangan emisi karbon dari PLTP Kamojang unit 5, Lumut Balai unit 1 dan 2 yang menggunakan Gold Standard, serta PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 yang menggunakan Verified Carbon Standard (VCS).

"Seluruh upaya ini membuka peluang baru yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi pengurangan emisi karbon dan secara langsung akan membuka peluang pendapatan baru bagi PGE," ungkapnya di Jakarta, Jumat (31/3/2023).

Baca Juga: Tumbuh 49,67 Persen, PGEO Cetak Laba Rp1,98 triliun di Tahun 2022

Sejalan dengan kontribusi pengurangan emisi yang dihasilkan oleh PLTP yang dioperasikan, PGE juga memiliki inisiatif Environmental Sustainability and Governance (ESG). Komitmen ESG ini sudah dibuktikan dengan meraih peringkat tertinggi kedua pada ESG Rating (ER) dalam kategori good performance dari sisi pengelolaan ESG oleh lembaga pemeringkat Sustainable Fitch.

Dijelaskan, beberapa program ESG PGE yang sudah berjalan di antaranya adalah program keanekaragaman hayati Pusat Konservasi Elang, khususnya spesies Elang Jawa di Kawasan Kamojang, Penangkaran Domba Garut, Konservasi Bunga Krisan, Penangkaran Kambing Saburai, dan Konservasi Kera Jambul Sulawesi (Yaki). Selain itu, PGE juga merehabilitasi kawasan hutan sebesar 588 ha dan melakukan upaya reboisasi secara masif.

Di luar itu, PGE juga berkomitmen mengembangkan komunitas melalui program Kamojang Digital Village yang dengan program aplikasi Digital Ranger Apps yang bertujuan untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekitar dan layanan WiFi pohon "Signal Kita". Melalui program-program itu, komitmen ESG PGE dirasakan langsung manfaatnya dalam mendukung kelestarian lingkungan dan ekonomi sirkular melalui koneksi internet berbayar menggunakan sampah atau dengan menanam pohon. Selain itu, PGE juga menjalankan Emergency Response Group Millennials (ERMi), yaitu program pemberdayaan masyarakat di area Ulubelu yang berfokus pada penanggulangan bencana dan lingkungan, seperti pemasangan pendeteksi tanah longsor.

Baca Juga: Terbesar Kedua di Dunia, Indonesia Punya Potensi Panas Bumi 24.000 Mega Watt

Pemanfaatan panas bumi untuk hidrogen hijau merupakan peluang potensial di masa depan. Di banyak negara, PLTP dipakai sebagai penghasil sumber listrik untuk memproduksi hidrogen melalui proses elektrolisis untuk berbagai keperluan. Dua di antaranya adalah untuk sektor transportasi dan petrokimia, dimana kedepannya hidrogen hijau dipercaya akan menjadi game changer untuk mencapai dekarbonisasi.

Pada kesempatan yang sama, pengamat energi Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa peluang industri panas bumi dalam mendukung ketahanan energi dan pelaksanaan kebijakan transisi energi di Indonesia cukup besar. Pembangkit panas bumi, kata dia, adalah pembangkit berbasis energi terbarukan yang dapat dijadikan sebagai pembangkit base load. Biaya operasionalnya pun terbilang murah. Di sisi lain, potensi panas bumi Indonesia terbilang sebagai salah satu yang terbesar di dunia, mencapai 24.000 MW.

Akan tetapi, kata dia, tantangan yang dihadapi oleh industri panas bumi nasional juga tidak mudah. Salah satunya, harga listrik panas bumi yang kurang kompetitif. Komaidi mengatakan, hal itu tak lepas dengan komitmen serta kebijakan di sektor panas bumi saat ini.

"Sejumlah negara dengan perkembangan industri panas bumi yang progresif seperti Amerika Serikat, Meksiko, Filipina, Selandia Baru, dan lainnya pada umumnya memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung pengembangan, pengusahaan, dan pemanfaatan panas bumi di negaranya masing-masing," kata dia.

Komitmen itu di antaranya direpresentasikan dengan menerbitkan sejumlah regulasi yang diperlukan dan memberikan sejumlah insentif yang diperlukan untuk mendukung pengembangan industri panas bumi. Karena itu, Komaidi berharap pemerintah dapat memberikan terobosan berupa kebijakan yang lebih mendukung pengembangan, pengusahaan, dan pemanfaatan panas bumi secara optimal.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
HGII Perkuat Posisi...
HGII Perkuat Posisi di Segmen Hidro, Tulang Punggung EBT Nasional dalam RUPTL 2025–2034
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Energi Panas Bumi, Tantangan,...
Energi Panas Bumi, Tantangan, Mitos, dan Ekonomi
ESG-IN dan IDCTA Kolaborasi...
ESG-IN dan IDCTA Kolaborasi Akselerasi Ekosistem Kredit Karbon Berbasis AI
Pengamat Nilai Kinerja...
Pengamat Nilai Kinerja PGEO 2025 Tegaskan Keuntungan Investasi Sektor Panas Bumi
Ketua MKI Jateng Dukung...
Ketua MKI Jateng Dukung Percepatan EBT dan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik
Resmi Tutup Paviliun...
Resmi Tutup Paviliun di COP30, Indonesia Perkuat Aksi Nyata Menuju Net Zero
Kemenhut Dorong Hutan...
Kemenhut Dorong Hutan Tanaman Industri Jadi Tulang Punggung Energi Terbarukan Dunia
Rekomendasi
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan...
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan Fee Rp1,6 Miliar untuk Ubah Hasil Audit di Muara Enim
ADIGSI dan Crest Kerja...
ADIGSI dan Crest Kerja Sama Pengembangan Keamanan Siber Nasional
Pangdam Mandala Trikora...
Pangdam Mandala Trikora Mayjen Frits Tepis TNI Berangkatkan Mama Sinta ke Jakarta
Berita Terkini
Rupiah Melemah, Bagaimana...
Rupiah Melemah, Bagaimana Nasib Proyek IKN?
Indodax Perkuat Pengawasan...
Indodax Perkuat Pengawasan Transaksi Kripto Berbasis AI
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
AirNav Gandeng AdMedika...
AirNav Gandeng AdMedika Permudah Akses Layanan Kesehatan Karyawan
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah 0,28% ke Level 5.902 Sore Ini
XLSMART dan Komdigi...
XLSMART dan Komdigi Luncurkan DigiHer, Targetkan Digitalisasi 2,4 Juta Perempuan di 2026
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved