Pergerakan Pesawat Naik 42%, Pengawasan Penerbangan Harus Tetap Jalan
Minggu, 19 Juli 2020 - 19:01 WIB
loading...
A
A
A
“Pemerintah harus bisa memberikan kesempatan sebaik-baiknya kepada operator bandara, maskapai, dan masyarakat yang ingin berpergian. Mereka harus dapat difasilitasi dengan baik. Upaya-upaya ini dilakukan untuk mewujudkan penerbangan yang aman, selamat, nyaman, dan sehat,” tuturnya.
Pengamat penerbangan Alvin Lie menyatakan dunia penerbangan di tengah Covid-19 harus menyatukan semua ekositem untuk bersama-sama menyatakan rasa aman bertransportasi udara.
Menurut dia, di tengah pandemi Covid-19, kunci utama ada pada kedisiplinan. Namun begitu, disiplin saja belum cukup, tapi juga harus didukung sosialisasi melalui integrasi sistem penerbangan dalam mendukung rasa aman bertransportasi udara.
“Stigma dari naik pesawat hingga berada di bandar udara harus dihilangkan sejak sekarang selama kita disiplin menjalankan protokol kesehatan. Di sisi lain, semua ekosistem informasi juga harus mendukung,” ungkapnya.
Dia menyebutkan bahwa sejak dari bandara, atau bahkan sejak dari bus bandara semua harus terinformasikan. “Selama ini, masih ada yang belum padu. Jadi semua itu harus padu informasinya dari hulu ke hilir. Bahkan kalau perlu di bus-bus bandara sebelum ke bandara diinformasikan kepada penumpang untuk menyiapkan keterangan rapid test Covid-19. Jadi semua terencana sebelum mendekati keberangkatan,” ucapnya.
Sebagai informasi, saat ini penerbangan udara mensyratkan hasil tes rapid untuk kemudian diperlihatkan kepada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan di bandara. Setelah itu penumpang diwajibkan mengisi keterangan mengenai kondisi terakhir melalui formulir maupun via aplikasi.
“Sekarang sudah bisa maksimal satu setengah jam sudah berada di bandara sebelum penerbangan, bahkan rapid test pun tersedia di setiap terminal keberangkatan,” pungkas Alvin.
Pengamat penerbangan Alvin Lie menyatakan dunia penerbangan di tengah Covid-19 harus menyatukan semua ekositem untuk bersama-sama menyatakan rasa aman bertransportasi udara.
Menurut dia, di tengah pandemi Covid-19, kunci utama ada pada kedisiplinan. Namun begitu, disiplin saja belum cukup, tapi juga harus didukung sosialisasi melalui integrasi sistem penerbangan dalam mendukung rasa aman bertransportasi udara.
“Stigma dari naik pesawat hingga berada di bandar udara harus dihilangkan sejak sekarang selama kita disiplin menjalankan protokol kesehatan. Di sisi lain, semua ekosistem informasi juga harus mendukung,” ungkapnya.
Dia menyebutkan bahwa sejak dari bandara, atau bahkan sejak dari bus bandara semua harus terinformasikan. “Selama ini, masih ada yang belum padu. Jadi semua itu harus padu informasinya dari hulu ke hilir. Bahkan kalau perlu di bus-bus bandara sebelum ke bandara diinformasikan kepada penumpang untuk menyiapkan keterangan rapid test Covid-19. Jadi semua terencana sebelum mendekati keberangkatan,” ucapnya.
Sebagai informasi, saat ini penerbangan udara mensyratkan hasil tes rapid untuk kemudian diperlihatkan kepada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan di bandara. Setelah itu penumpang diwajibkan mengisi keterangan mengenai kondisi terakhir melalui formulir maupun via aplikasi.
“Sekarang sudah bisa maksimal satu setengah jam sudah berada di bandara sebelum penerbangan, bahkan rapid test pun tersedia di setiap terminal keberangkatan,” pungkas Alvin.
(ind)
Lihat Juga :