Dari Minum Teh hingga Makan Bubur Ayam, Sri Mulyani Beberkan Pentingnya Konsumsi untuk Pertumbuhan Ekonomi
Rabu, 10 Mei 2023 - 13:32 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Sri, konsumsi di Indonesia tumbuh cukup tinggi pada kuartal I/2023, sehingga PDB juga ikut tumbuh. Selanjutnya, faktor kedua adalah investasi.
"Kenapa investasi? Karena investasi adalah permintaan seluruh barang dan jasa untuk seseorang bisa menjalankan kegiatan produktif. Kalau konsumsi itu kan to consume, kalau investasi umpama ingin menjadi barista butuh membangun kafe, maka mulai nyewa ruko, bikin furnitur, beli mesin kopinya, kopi, itu semuanya adalah kegiatan investasi," terang wanita kelahiran Lampung.
Hal itu, kata dia, sama halnya dengan orang mau membangun pabrik kerupuk ataupun pabrik motor, misalnya. Namun, orang akan melakukan investasi ini jika dia meyakini ada untungnya. Karena kalau tidak untung, otomatis uangnya pun hilang.
"Untuk bisa untung dan yakin, maka kondisi ekonomi harus baik. Rakyatnya tenang, konsumsi tumbuh, dunianya aman, dan harga-harga dari barang produksinya nggak mahal, atau kalau bisa ya terjangkau, entah itu modalnya, labour-nya, dari sisi bangunan, dan lain-lain," urai mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.
Baca juga: AS Batal Investasi di Proyek Hilirisasi Batu Bara RI, Luhut Ungkap Penggantinya dari China
"Kenapa investasi? Karena investasi adalah permintaan seluruh barang dan jasa untuk seseorang bisa menjalankan kegiatan produktif. Kalau konsumsi itu kan to consume, kalau investasi umpama ingin menjadi barista butuh membangun kafe, maka mulai nyewa ruko, bikin furnitur, beli mesin kopinya, kopi, itu semuanya adalah kegiatan investasi," terang wanita kelahiran Lampung.
Hal itu, kata dia, sama halnya dengan orang mau membangun pabrik kerupuk ataupun pabrik motor, misalnya. Namun, orang akan melakukan investasi ini jika dia meyakini ada untungnya. Karena kalau tidak untung, otomatis uangnya pun hilang.
"Untuk bisa untung dan yakin, maka kondisi ekonomi harus baik. Rakyatnya tenang, konsumsi tumbuh, dunianya aman, dan harga-harga dari barang produksinya nggak mahal, atau kalau bisa ya terjangkau, entah itu modalnya, labour-nya, dari sisi bangunan, dan lain-lain," urai mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.
Baca juga: AS Batal Investasi di Proyek Hilirisasi Batu Bara RI, Luhut Ungkap Penggantinya dari China
Lihat Juga :