Optimalisasi Pemanfaatan Gas Penting di Masa Transisi Energi
Senin, 15 Mei 2023 - 18:31 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, Arcandra mengatakan bahwa transisi energi harus dijalankan dengan mengedepankan kebijaksanaan lokal. Dia mencontohkan, Eropa gencar mengembangkan energi berbasis angin karena potensinya yang memang besar di sana. Demikian pula di Timur Tengah yang lebih banyak mengembangkan energi matahari. "Di Indonesia apa yang kita punya untuk renewable energy? Dari sisi kebijakan, pemerintah sekarang sudah memikirkan dengan matang termasuk dalam hal pemanfaatan gas di masa transisi," tuturnya.
Baca Juga: Mutasi TNI, Daftar Jenderal Bintang Satu dan Dua yang Masuk Pendidikan Lemhannas
Arcandra juga menekankan perlunya mitigasi untuk menyikapi kondisi geopolitik yang penuh dengan ketidakpastian yang berpengaruh terhadap harga komoditi energi migas. Dia mencontohkan langkah Eropa yang tengah berupaya mengubah ketergantungannya pada pasokan gas pipa dari Rusia. "Setahun belakangan ini mungkin sampai tahun depan, mereka berlomba-lomba membangun fasilitas infrastruktur agar LNG dari negara pengekspor gas bisa masuk ke Eropa," paparnya.
Di Indonesia sendiri, sambung dia, ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) masih cukup besar. Kebutuhan minyak dan produk BBM dalam negeri saat ini kira-kira 1,4 juta barel per hari. Sedangkan produksi kilang dalam negeri untuk menghasilkan BBM saat ini hanya sekitar 800 ribu barel per hari. "Hal ini menyebabkan impor BBM kita masih sekitar 600 ribu barel per hari," ungkapnya.
Menurut dia, pemerintah tentunya tahu persis bagaimana seharusnya bertindak. Sisi geopolitik dan hubungan bilateral menurutnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyikapi perpolitikan dunia. "Tentunya kita bisa mempertimbangkan kebijakan negara lain yang cocok untuk dicontoh. Seperti halnya dalam menentukan strategi-strategi transisi dengan diversifikasi usaha ataupun dekarbonisasi menuju renewable energy," tutupnya.
Baca Juga: Mutasi TNI, Daftar Jenderal Bintang Satu dan Dua yang Masuk Pendidikan Lemhannas
Arcandra juga menekankan perlunya mitigasi untuk menyikapi kondisi geopolitik yang penuh dengan ketidakpastian yang berpengaruh terhadap harga komoditi energi migas. Dia mencontohkan langkah Eropa yang tengah berupaya mengubah ketergantungannya pada pasokan gas pipa dari Rusia. "Setahun belakangan ini mungkin sampai tahun depan, mereka berlomba-lomba membangun fasilitas infrastruktur agar LNG dari negara pengekspor gas bisa masuk ke Eropa," paparnya.
Di Indonesia sendiri, sambung dia, ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) masih cukup besar. Kebutuhan minyak dan produk BBM dalam negeri saat ini kira-kira 1,4 juta barel per hari. Sedangkan produksi kilang dalam negeri untuk menghasilkan BBM saat ini hanya sekitar 800 ribu barel per hari. "Hal ini menyebabkan impor BBM kita masih sekitar 600 ribu barel per hari," ungkapnya.
Menurut dia, pemerintah tentunya tahu persis bagaimana seharusnya bertindak. Sisi geopolitik dan hubungan bilateral menurutnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyikapi perpolitikan dunia. "Tentunya kita bisa mempertimbangkan kebijakan negara lain yang cocok untuk dicontoh. Seperti halnya dalam menentukan strategi-strategi transisi dengan diversifikasi usaha ataupun dekarbonisasi menuju renewable energy," tutupnya.
(fjo)
Lihat Juga :