KTT G7, RI Manfaatkan Program PGII Baru untuk Genjot Pembangunan Infrastruktur
Minggu, 21 Mei 2023 - 11:42 WIB
loading...
A
A
A
Pengembangan SMR canggih ini dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Indonesia menjadi negara mitra SMR.
Sejak meluncurkan JETP pada KTT G20 2022, AS mengumumkan kemitraan bersama Indonesia untuk mendukung Indonesia sebagai penggerak pertama di kawasan dalam pengembangan SMR di ASEAN.
Teknologi perusahaan AS, NuScale Power menjadi proyek percontohan meliputi tambahan USD1 Juta dalam bentuk dukungan yang ditargetkan untuk menetapkan kemampuan teknis dan peraturan dalam mengembangkan SMR, dan studi kelayakan SMR senilai USD2,4 Juta dari USTDA.
Baca juga: Jokowi: Bumi Ini Butuh Aksi Nyata, Bukan Talk The Talk
The United States International Development Finance Corporation (DFC) telah menandatangani Letter of Interest untuk mendukung pengembangan SMR di Indonesia. Amerika Serikat terus mendukung rantai pasokan dan penyebaran energi bersih di Indonesia sebagai bagian dari PGII, termasuk melalui JETP dan keterlibatan berkelanjutan lainnya.
Selain itu, untuk memasilitasi investasi yang sangat penting untuk transisi ke ekonomi yang terhubung secara global, terdigitalisasi, dan berkelanjutan. Lembaga pembiayaan AS menerapkan model pembiayaan inovatif seperti obligasi hijau dan fasilitas kredit bergulir.
Salah satunya, Citi menyebutkan sekitar USD1,6 miliar investasi yang baru-baru ini diumumkan atau diselesaikan dan sejalan dengan PGII, termasuk peluncuran obligasi hijau pertama pengembang panas bumi milik BUMN Indonesia senilai sekitar USD400 juta.
Proyek ini membantu Indonesia memimpin pengembangan energi hijau dengan memperluas operasi panas bumi di Indonesia.
Sejak meluncurkan JETP pada KTT G20 2022, AS mengumumkan kemitraan bersama Indonesia untuk mendukung Indonesia sebagai penggerak pertama di kawasan dalam pengembangan SMR di ASEAN.
Teknologi perusahaan AS, NuScale Power menjadi proyek percontohan meliputi tambahan USD1 Juta dalam bentuk dukungan yang ditargetkan untuk menetapkan kemampuan teknis dan peraturan dalam mengembangkan SMR, dan studi kelayakan SMR senilai USD2,4 Juta dari USTDA.
Baca juga: Jokowi: Bumi Ini Butuh Aksi Nyata, Bukan Talk The Talk
The United States International Development Finance Corporation (DFC) telah menandatangani Letter of Interest untuk mendukung pengembangan SMR di Indonesia. Amerika Serikat terus mendukung rantai pasokan dan penyebaran energi bersih di Indonesia sebagai bagian dari PGII, termasuk melalui JETP dan keterlibatan berkelanjutan lainnya.
Selain itu, untuk memasilitasi investasi yang sangat penting untuk transisi ke ekonomi yang terhubung secara global, terdigitalisasi, dan berkelanjutan. Lembaga pembiayaan AS menerapkan model pembiayaan inovatif seperti obligasi hijau dan fasilitas kredit bergulir.
Salah satunya, Citi menyebutkan sekitar USD1,6 miliar investasi yang baru-baru ini diumumkan atau diselesaikan dan sejalan dengan PGII, termasuk peluncuran obligasi hijau pertama pengembang panas bumi milik BUMN Indonesia senilai sekitar USD400 juta.
Proyek ini membantu Indonesia memimpin pengembangan energi hijau dengan memperluas operasi panas bumi di Indonesia.
(ind)
Lihat Juga :