Turis Asing Berulah di Bali, Partai Perindo: Perlu Aturan Bijak yang Tak Ganggu Promosi Pariwisata
Selasa, 30 Mei 2023 - 18:11 WIB
loading...
A
A
A
Yerry melanjutkan, dalam menyikapi hal tersebut sebaiknya tidak over reaktif, jangan sampai satu orang gila yang kasusnya bisa di 'localize,' bisa merusak promosi pariwisata Indonesia.
Menurutnya, untuk konteks Bali, peran para pecalang, petugas adat di tingkat banjar, atau desa adat di Bali cukup untuk mengamankan kasus-kasus seperti ini.
"Apalagi di Bali ada polisi khusus untuk pariwisata. Seharusnya jika pecalang maksimal jalankan tugasnya, wisatawan stres yang telanjang itu sudah bisa dicegah sebelum masuk ke arena pertunjukan tari," ujar politisi Partai Perindo -- yang ditetapkan KPU bernomor urut 16 pada kertas suara Pemilu 2024 itu.
Menurut politisi Partai Perindo yang sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Indonesia (UI) dengan disertasi tentang pariwisata berkelanjutan ini mengatakan, pariwisata Indonesia sedang "berperang" dengan pesaingnya di Asia Tenggara yaitu Thailand dan Malaysia.
Masing-masing negara secara proaktif mempromosikan bahwa negaranya paling indah dan nyaman dikunjungi, bebas dari ancaman hukuman apalagi kriminalisasi.
Sebelum pandemi di tahun 2019, kunjungan wisatawan mancanegara ke Thailand berjumlah 39,92 juta kunjungan, Malaysia 26 juta, dan Indonesia 16,1 juta kunjungan. Tahun 2022 sesudah pandemi, kunjungan ke Thailand 11,15 juta; Malaysia 10,7 juta dan ke Indonesia hanya 5,47 juta.
Menurutnya, untuk konteks Bali, peran para pecalang, petugas adat di tingkat banjar, atau desa adat di Bali cukup untuk mengamankan kasus-kasus seperti ini.
"Apalagi di Bali ada polisi khusus untuk pariwisata. Seharusnya jika pecalang maksimal jalankan tugasnya, wisatawan stres yang telanjang itu sudah bisa dicegah sebelum masuk ke arena pertunjukan tari," ujar politisi Partai Perindo -- yang ditetapkan KPU bernomor urut 16 pada kertas suara Pemilu 2024 itu.
Menurut politisi Partai Perindo yang sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Indonesia (UI) dengan disertasi tentang pariwisata berkelanjutan ini mengatakan, pariwisata Indonesia sedang "berperang" dengan pesaingnya di Asia Tenggara yaitu Thailand dan Malaysia.
Masing-masing negara secara proaktif mempromosikan bahwa negaranya paling indah dan nyaman dikunjungi, bebas dari ancaman hukuman apalagi kriminalisasi.
Sebelum pandemi di tahun 2019, kunjungan wisatawan mancanegara ke Thailand berjumlah 39,92 juta kunjungan, Malaysia 26 juta, dan Indonesia 16,1 juta kunjungan. Tahun 2022 sesudah pandemi, kunjungan ke Thailand 11,15 juta; Malaysia 10,7 juta dan ke Indonesia hanya 5,47 juta.
Lihat Juga :