Sejarah Bluebird: Terilhami dari Sebuah Bemo Murah
Kamis, 01 Juni 2023 - 20:40 WIB
loading...
A
A
A
Keluarga itu sepakat menjadikan dua kendaraan yang ada sebagai taksi dan menggunakan nama usaha Chandra Taksi. Nama itu sama dengan salah satu anak Fatimah. Chandra adalah orang tua dari Sigit Priawan Djokosoetono, tak lain dari bos Bluebird yang kemarin viral lantaran ikutan jadi sopir taksi. Chandra juga ayah dari Bayu Priawan Djokosoetono, komisaris Bluebird.
Untuk merintis Chandra Taksi, Purnomo dan Chandra tak hanya merekrut karyawan. Mereka juga terjun langsung untuk menjadi sopir taksi. Bisnis taksi ini awalnya dijalankan di sebuah rumah di Jalan Cokroaminoto, Jakarta, pada tahun 1965.
Model bisnis taksi yang dijalankan oleh Purnomo dan Chandra adalah dengan pesanan melalui telepon. Taksi akan segera menjemput penumpang dan mengantarkannya sampai tujuan.
Tantangan di awal menjalankan bisnis ini adalah aturan. Ali Sadikin, Gubernur Jakarta waktu itu, tengah gencar memberantas taksi gelap yang marak dan tarifnya asal tembak. Ali Sadikin kemudian mengeluarkan aturan yang menetapkan bahwa perusahaan yang bisa mendapatkan izin operasional harus memiliki minimal 100 armada. Kala itu keluarga Djokosoetono hanya memiliki 60 unit taksi sehingga izinnya ditolak oleh Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya Jakarta.
Fatimah kemudian berjuangan untuk menambah jumlah armada. Cara yang dia tempuh waktu itu adalah mencari pinjaman bank. Bank yang bersedia memberikan pinjaman adalah Bank Bumi Daya. Dengan pinjaman itu, Fatimah bisa mendapatkan izin operasional untuk perusahaan taksinya.
Untuk merintis Chandra Taksi, Purnomo dan Chandra tak hanya merekrut karyawan. Mereka juga terjun langsung untuk menjadi sopir taksi. Bisnis taksi ini awalnya dijalankan di sebuah rumah di Jalan Cokroaminoto, Jakarta, pada tahun 1965.
Model bisnis taksi yang dijalankan oleh Purnomo dan Chandra adalah dengan pesanan melalui telepon. Taksi akan segera menjemput penumpang dan mengantarkannya sampai tujuan.
Tantangan di awal menjalankan bisnis ini adalah aturan. Ali Sadikin, Gubernur Jakarta waktu itu, tengah gencar memberantas taksi gelap yang marak dan tarifnya asal tembak. Ali Sadikin kemudian mengeluarkan aturan yang menetapkan bahwa perusahaan yang bisa mendapatkan izin operasional harus memiliki minimal 100 armada. Kala itu keluarga Djokosoetono hanya memiliki 60 unit taksi sehingga izinnya ditolak oleh Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya Jakarta.
Fatimah kemudian berjuangan untuk menambah jumlah armada. Cara yang dia tempuh waktu itu adalah mencari pinjaman bank. Bank yang bersedia memberikan pinjaman adalah Bank Bumi Daya. Dengan pinjaman itu, Fatimah bisa mendapatkan izin operasional untuk perusahaan taksinya.
Lihat Juga :