Ini Kiat Ketahanan Finansial Saat Menghadapi Resesi
Jum'at, 24 Juli 2020 - 04:49 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kegiatan webinar tersebut diikuti peserta sebanyak 1.537 orang dari berbagai kalangan yaitu pegawai pemerintah (BPK RI, Inspektorat Provinsi, Irjen Kementerian Keuangan), pelaku pasar modal (beberapa sekuritas, PIPM BEI), akademisi, mahasiswa dan pelaku usaha lainnya.
Acara ini turut menghadirkan narasumber, Prof. Harry Azhar Aziz, MA, Phd, CSFA (BPK RI), Haryajid Ramelan (Dirut PT TAP Kapital Indonesia dan Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal), Achmad Faiz Falachi (Auditor Internal PT.Phapros Tbk. Kimia Farma Group).
Dalam kesempatan yang sama, Harry Azhar Azis memberikan informasi bahwa anggaran penanggulangan Covid-19 ini terus berkembang. Sejak bulan Maret sampai dengan Juli ini. Di angka Rp121,3 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp695,2 triliun pada 16 juni 2020 atau naik 473% dengan perincian anggaran untuk kesehatan (Rp87,55 triliun), perlindungan sosial (Rp203,90 triliun), Sektoral K/L & Pemda (Rp106,11 triliun), UMKM (Rp123,46 triliun), Pembiayaan Korporasi (Rp53,57 triliun) dan untuk insentif usaha (Rp120,61 triliun).
Harry Azhar Azis juga menyinggung alokasi anggaran penanganan Covid-19 di Kota Semarang sebesar Rp79,49 miliar. Indonesia juga dihadapi tantangan besar dalam krisis Covid-19 yaitu hutang Indonesia negara membengkak menurut data BI menunjukkan utang luar negeri Indonesia pada bulan april 2020 sebesar USD400,2 miliar atau Rp5.800 triliun dengan kurs Rp14.800 per 8 juli 2020 (BI, Juli 2020) sehingga utang luar negeri Indonesia tubuh 2,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada maret 2020 sebesar 0,6% (yoy).
Bila dilihat utang luar negeri Indonesia terhadap PDB pada akhir april 2020 sebesar 36,5% sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 34,6% (batas aman 60% terhadap PDB) dan diprediksi Indonesia bisa diujung tahun pertumbuhan ekonominya -2% dilihat dari negara tetangga juga mengalami pertumbuhan menjadi minus.
“Disini peran BPK RI untuk melakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan melihat dari sisi indikator kesejahteraan itu naik atau turun untuk menilai anggaran tersebut sudah terlaksana atau belum dan juga tepat sasaran atau tidak,” tegas Harry Azhar Azis.
Acara ini turut menghadirkan narasumber, Prof. Harry Azhar Aziz, MA, Phd, CSFA (BPK RI), Haryajid Ramelan (Dirut PT TAP Kapital Indonesia dan Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal), Achmad Faiz Falachi (Auditor Internal PT.Phapros Tbk. Kimia Farma Group).
Dalam kesempatan yang sama, Harry Azhar Azis memberikan informasi bahwa anggaran penanggulangan Covid-19 ini terus berkembang. Sejak bulan Maret sampai dengan Juli ini. Di angka Rp121,3 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp695,2 triliun pada 16 juni 2020 atau naik 473% dengan perincian anggaran untuk kesehatan (Rp87,55 triliun), perlindungan sosial (Rp203,90 triliun), Sektoral K/L & Pemda (Rp106,11 triliun), UMKM (Rp123,46 triliun), Pembiayaan Korporasi (Rp53,57 triliun) dan untuk insentif usaha (Rp120,61 triliun).
Harry Azhar Azis juga menyinggung alokasi anggaran penanganan Covid-19 di Kota Semarang sebesar Rp79,49 miliar. Indonesia juga dihadapi tantangan besar dalam krisis Covid-19 yaitu hutang Indonesia negara membengkak menurut data BI menunjukkan utang luar negeri Indonesia pada bulan april 2020 sebesar USD400,2 miliar atau Rp5.800 triliun dengan kurs Rp14.800 per 8 juli 2020 (BI, Juli 2020) sehingga utang luar negeri Indonesia tubuh 2,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada maret 2020 sebesar 0,6% (yoy).
Bila dilihat utang luar negeri Indonesia terhadap PDB pada akhir april 2020 sebesar 36,5% sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 34,6% (batas aman 60% terhadap PDB) dan diprediksi Indonesia bisa diujung tahun pertumbuhan ekonominya -2% dilihat dari negara tetangga juga mengalami pertumbuhan menjadi minus.
“Disini peran BPK RI untuk melakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan melihat dari sisi indikator kesejahteraan itu naik atau turun untuk menilai anggaran tersebut sudah terlaksana atau belum dan juga tepat sasaran atau tidak,” tegas Harry Azhar Azis.
Lihat Juga :