Bangkit dari Keterpurukan, Ini Jurus Ampuh Pelaku Industri Bandara
Jum'at, 24 Juli 2020 - 09:08 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, lanjut dia, cost leadership di mana perusahaan mengurangi beban biaya yang muncul di operasional yang sifatnya tidak esensial. Terkait cost leadership, dikurangi beban biaya yang muncul di operasional sambil diperhatikan tipe biaya yang muncul. (Baca juga: DKI Akan Wajibkan Pengunjung Tempat Hiburan Malam Lakukan Swab Test)
Jadi, ada biaya-biaya yang sifatnya nonesensial bisa dipotong sampai 100%. Yang sifatnya kontributor ke operasional sampai 80%. “Tapi yang sifatnya esensial seperti safety, securty itu jadi mandatori di angkutan udara kita kurangi 20% dan yang terkait akselerator ini yang bisa beri kontribusi pendapatan lebih besar kurang 20%,” ujarnya.
Upaya tersebut, AP I bisa menghemat biaya sebesar 32% yang sangat berpengaruh signifikan ke depan. Saat ini, trafik penumpang di bandara AP I turun signifikan. Pada Mei lalu jumlah penumpang hanya 75.000 orang atau turun 99% dari kondisi normal di mana bisa mencapai 7,5 juta orang.
Seiring adanya masa adaptasi kebiasaan baru (new normal), terhitung pada 19 Juli ini ada pertumbuhan untuk trafik penerbangan yakni 35%. Namun trafik penumpang masih jauh di kisaran 17%. (Lihat videonya: Untuk Kedua Kalinya Seorang Ibu Muda Tega Menjual Bayinya)
Pascapengoperasian kembali penerbangan berjadwal, AirAsia Indonesia mencatat peningkatan pemesanan tiket hingga lebih dari 400% dan total penjualan kursi lebih dari 19.000 kursi dalam kurun waktu satu bulan.
Tren permintaan pun menunjukan kenaikan bertahap yang signifikan dilihat dari peningkatan aktivitas pencarian tiket di situs AirAsia sebesar 80% sejak awal pengoperasian kembali. Jakarta-Bali dan Surabaya-Kuala Lumpur merupakan rute domestik dan internasional yang paling diminati saat ini.
Direktur Utama AirAsia Indonesia, Veranita Yosephine Sinaga mengatakan, pertumbuhan ini dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya upaya pemerintah dalam mengedukasi mengenai prosedur bepergian di masa adaptasi kebiasaan baru yang direspons baik oleh masyarakat. (Ichsan Amin)
Jadi, ada biaya-biaya yang sifatnya nonesensial bisa dipotong sampai 100%. Yang sifatnya kontributor ke operasional sampai 80%. “Tapi yang sifatnya esensial seperti safety, securty itu jadi mandatori di angkutan udara kita kurangi 20% dan yang terkait akselerator ini yang bisa beri kontribusi pendapatan lebih besar kurang 20%,” ujarnya.
Upaya tersebut, AP I bisa menghemat biaya sebesar 32% yang sangat berpengaruh signifikan ke depan. Saat ini, trafik penumpang di bandara AP I turun signifikan. Pada Mei lalu jumlah penumpang hanya 75.000 orang atau turun 99% dari kondisi normal di mana bisa mencapai 7,5 juta orang.
Seiring adanya masa adaptasi kebiasaan baru (new normal), terhitung pada 19 Juli ini ada pertumbuhan untuk trafik penerbangan yakni 35%. Namun trafik penumpang masih jauh di kisaran 17%. (Lihat videonya: Untuk Kedua Kalinya Seorang Ibu Muda Tega Menjual Bayinya)
Pascapengoperasian kembali penerbangan berjadwal, AirAsia Indonesia mencatat peningkatan pemesanan tiket hingga lebih dari 400% dan total penjualan kursi lebih dari 19.000 kursi dalam kurun waktu satu bulan.
Tren permintaan pun menunjukan kenaikan bertahap yang signifikan dilihat dari peningkatan aktivitas pencarian tiket di situs AirAsia sebesar 80% sejak awal pengoperasian kembali. Jakarta-Bali dan Surabaya-Kuala Lumpur merupakan rute domestik dan internasional yang paling diminati saat ini.
Direktur Utama AirAsia Indonesia, Veranita Yosephine Sinaga mengatakan, pertumbuhan ini dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya upaya pemerintah dalam mengedukasi mengenai prosedur bepergian di masa adaptasi kebiasaan baru yang direspons baik oleh masyarakat. (Ichsan Amin)
(ysw)
Lihat Juga :