Bangkit dari Keterpurukan, Ini Jurus Ampuh Pelaku Industri Bandara
Jum'at, 24 Juli 2020 - 09:08 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu contohnya adalah aplikasi Travelation yang mendukung aplikasi Indonesia Airports. “Travelation digunakan untuk melakukan pengecekan secara digital terhadap dokumen-dokumen yang harus dipenuhi setiap orang yang ingin melakukan perjalanan dengan pesawat di tengah pandemi,” ungkapnya.
Chief Strategy & Development Officer Bengaluru International Airport Limited Satyaki Raghunath, mengatakan perlu adanya acara-cara penggunaan teknologi. “Selain untuk meningkatkan customer experience, kita harus bisa mengekesplor apakah dapat menghasilkan pendapatan tambahan menggunakan teknologi,” jelas Satyaki Raghunath.
Kesepakatan yang ketiga yakni pengembangan bisnis non-aeronatika. Para pelaku industri penerbangan diminta mengeksploitasi bisnis non-aeronatika yang selama ini belum digarap optimal. Meningkatnya bisnis non-aeronautika dapat mengompensasi penurunan bisnis aeronautika yang tertekan pandemi.
Pendapatan non-aeronautika dapat digenjot dengan memaksimalkan dan mengoptimalkan aset yang ada di luar bandara maupun di dalam bandara. Misalnya melalui pengembangan konsep aerotropolis.
CEO Oman Airports Sheikh Aimen Al Hosni mengatakan konsep Single Token Journey cukup penting untuk diterapkan apalagi di tengah pandemi. Mulai dari curbside hingga (penumpang) berada di kursi pesawat. “Apakah mereka membawa bagasi atau hanya barang bawaan, bisa dilakukan secara automated termasuk koridor imigrasi,” kata Sheikh Aimen Al Hosni. (Baca juga: FPI Gerebek Kafe di Makassar, Ratusan Botol Miras Disita)
Sementara itu PT Angkasa Pura I (AP I) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghemat kas perusahaan akibat pandemi Covid-19. Sampai saat ini jumlah penumpang pesawat pesawat di bandara masih sepi.
Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan pihaknya menyiapkan penanganan krisis industri penerbangan dengan mengutamakan sektor kesehatan serta menyelamatkan sektor perekonomian melalui diskusi dengan pihak maskapai.
Faik menyebutnya dengan strategi bertahan atau survival strategy meningkatkan portofolio bisnis di luar penerbangan. “Termasuk pengoperasian freighter cargo, tadinya enggak punya sekarang kita punya. Ini bagian dari program untuk memanfaatkan angkutan logistik. Kita charter dengan Pelita Air yang sekarang punya penerbangan sembilan kali per minggu,” katanya.
Chief Strategy & Development Officer Bengaluru International Airport Limited Satyaki Raghunath, mengatakan perlu adanya acara-cara penggunaan teknologi. “Selain untuk meningkatkan customer experience, kita harus bisa mengekesplor apakah dapat menghasilkan pendapatan tambahan menggunakan teknologi,” jelas Satyaki Raghunath.
Kesepakatan yang ketiga yakni pengembangan bisnis non-aeronatika. Para pelaku industri penerbangan diminta mengeksploitasi bisnis non-aeronatika yang selama ini belum digarap optimal. Meningkatnya bisnis non-aeronautika dapat mengompensasi penurunan bisnis aeronautika yang tertekan pandemi.
Pendapatan non-aeronautika dapat digenjot dengan memaksimalkan dan mengoptimalkan aset yang ada di luar bandara maupun di dalam bandara. Misalnya melalui pengembangan konsep aerotropolis.
CEO Oman Airports Sheikh Aimen Al Hosni mengatakan konsep Single Token Journey cukup penting untuk diterapkan apalagi di tengah pandemi. Mulai dari curbside hingga (penumpang) berada di kursi pesawat. “Apakah mereka membawa bagasi atau hanya barang bawaan, bisa dilakukan secara automated termasuk koridor imigrasi,” kata Sheikh Aimen Al Hosni. (Baca juga: FPI Gerebek Kafe di Makassar, Ratusan Botol Miras Disita)
Sementara itu PT Angkasa Pura I (AP I) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghemat kas perusahaan akibat pandemi Covid-19. Sampai saat ini jumlah penumpang pesawat pesawat di bandara masih sepi.
Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan pihaknya menyiapkan penanganan krisis industri penerbangan dengan mengutamakan sektor kesehatan serta menyelamatkan sektor perekonomian melalui diskusi dengan pihak maskapai.
Faik menyebutnya dengan strategi bertahan atau survival strategy meningkatkan portofolio bisnis di luar penerbangan. “Termasuk pengoperasian freighter cargo, tadinya enggak punya sekarang kita punya. Ini bagian dari program untuk memanfaatkan angkutan logistik. Kita charter dengan Pelita Air yang sekarang punya penerbangan sembilan kali per minggu,” katanya.
Lihat Juga :