15 Negara Surga Pajak Teratas di Dunia, Ada Tetangga Indonesia

Rabu, 07 Juni 2023 - 11:32 WIB
loading...
A A A
Sistem pajak teritorial Luksemburg menjadikannya surga pajak yang ideal bagi perusahaan lepas pantai. Entitas yang bukan penduduk atau asing hanya dikenakan pajak atas penghasilan yang diperoleh di dalam negeri.

Selain itu, statusnya sebagai negara inti UE dengan lingkungan ekonomi dan politik yang sehat, serta tingkat kerahasiaan keuangan yang tinggi, membuat negara ini sangat menarik bagi bisnis asing.

Namun, lingkungan pajak Luksemburg telah memungkinkan banyak perusahaan asing untuk memotong tagihan pajak yang besar, yang menyebabkan negara tersebut dituduh menampung 55.000 perusahaan lepas pantai dan memfasilitasi penghindaran pajak.

4. Hongkong

Nilai FSI: 927

Hong Kong menempati peringkat keempat pada Indeks Kerahasiaan Keuangan 2022, dengan pangsa FSI di seluruh dunia sebesar 2,73%. Hal ini menjadikannya salah satu surga pajak paling populer karena pemerintah daerah mendorong investasi asing.

Keuntungan perusahaan yang dibuat di luar wilayah dibebaskan dari pajak. Yurisdiksi ini juga populer karena kemudahan berbisnis dan kebijakan yang bersahabat untuk investasi asing.

Hong Kong juga memiliki kebijakan tarif pajak nol atas pajak warisan, capital gain, pajak dividen, dan pajak pertambahan nilai. Pajak penghasilan untuk penduduk rendah, mulai dari 2% hingga 17%. Skor kerahasiaan keuangan yang tinggi yaitu 65 pada laporan FSI 2022 menambah reputasinya sebagai yurisdiksi yang aman bagi entitas asing.

3. Singapura

Nilai FSI: 1.167

Negara tetangga Indonesia menerapkan tarif pajak nol untuk perusahaan lepas pantai, hingga menjadikannya tujuan ideal bagi perusahaan non-residen. Skor kerahasiaan keuangan global 67 dan skor kerahasiaan perbankan 30 adalah indikator lain yang memperkuat reputasinya sebagai tempat berlindung yang aman bagi bisnis lepas pantai dan rekening bank luar negeri.

Negara ini juga memfasilitasi perusahaan untuk terlibat dalam perdagangan internasional dan perdagangan valas offshore. Tidak ada kontrol atau batasan pada bisnis penukaran mata uang, yang membuat aliran uang nyaman bagi investor asing.

Selain itu, fleksibilitas perusahaan Singapura dan perjanjian pajak yang menguntungkan dengan 28 negara berkontribusi pada statusnya sebagai wilayah yang menjanjikan bagi perusahaan non-residen.

2. Swiss

Nilai FSI: 1.167

Indeks Kerahasiaan Keuangan 2022 menempatkan Swiss sebagai yurisdiksi keuangan terkemuka kedua dengan nilai FSI global 1.167, pangsa FSI 3,43%, dan skor kerahasiaan 71. Peringkat ini mencerminkan tingkat kerahasiaan keuangan Swiss yang tinggi dan signifikansinya sebagai surga pajak global.

Kebijakan pajak yang menguntungkan, undang-undang privasi keuangan yang kuat, dan sistem perbankan stabil menjadikan Swiss surga pajak lepas pantai bagi bisnis yang ingin meminimalkan kewajiban pajak mereka dan melindungi aset keuangan mereka.

Negara ini juga menawarkan berbagai insentif pajak, termasuk tarif pajak rendah dan perlakuan pajak preferensial untuk jenis pendapatan dan kekayaan tertentu.

Tradisi rahasia perbankan Swiss yang sudah lama ada, dengan skor kerahasiaan perbankan 60, menambah daya pikatnya sebagai surga pajak lepas pantai. Negara ini secara historis mempertahankan hukum dan peraturan yang ketat untuk menjaga kerahasiaan informasi perbankan mereka.

1. Amerika Serikat

Nilai FSI: 1.951

Amerika Serikat (AS) menempati peringkat pertama pada Indeks Kerahasiaan Keuangan 2022, dengan bobot skala global yang luar biasa sebesar 25,8% dan pangsa FSI sebesar 5,74%. AS telah muncul sebagai suaka pajak global baru —menyalip Kepulauan Cayman dan suaka pajak populer lainnya— karena sektor keuangannya yang kuat, sistem pajak perusahaan yang kompetitif, dan lingkungan bisnis yang menguntungkan.

Beberapa negara bagian AS —seperti South Dakota, Nevada, dan Delaware— muncul sebagai pesaing yang semakin meningkat untuk suaka pajak lepas pantai populer seperti Kepulauan Cayman, Bahama, dan Malta. Mereka juga menjadi tujuan ideal bagi investor asing yang ingin menyembunyikan modalnya dari otoritas pajak, kreditur, dan lembaga penegak hukum.

Menurut sebuah laporan oleh Business Insider, di seluruh negeri menyimpan miliaran dolar yang tidak kena pajak. AS juga bukan peserta Common Reporting Standards.

Pada 2021 lalu, Pandora Papers mengungkap South Dakota telah menjadi salah satu contoh surga pajak di negara bagian AS, melonggarkan undang-undang pajak mereka untuk menarik investor kaya.

"Selama dekade terakhir, South Dakota, Nevada dan lebih dari puluhan negara bagian bertransformasi untuk unggul dalam bisnis, dengan menawarkan kerahasiaan keuangan (investor)," menurut laporan Pandora Papers tentang surga pajak perusahaan cangkang.

Fasilitas kerahasiaan dan sistem yang memungkinkan pengusaha untuk menghindari pajak apa pun, adalah kunci persaingan untuk menarik dana besar dari investor di dalam dan luar negeri, seperti yang dilansir dari AFP pada 2021.

"Hampir separuh negara bagian AS ikut serta dalam permainan (bisnis) ini," kata Chuck Collins dari Institute for Policy Studies, salah satu pakar yang memberikan latar belakang kepada jurnalis yang bekerja di Pandora Papers.

Selain South Dakota, Collins menyebutkan Alaska, Wyoming, dan Nevada, yang menjadi surga pajak perusahaan cangkang. "Mereka cenderung negara bagian kecil," katanya, di mana industri jasa yang diarahkan pada keuangan yang "akan memiliki banyak kekuatan."
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemutakhiran NIK Jadi...
Pemutakhiran NIK Jadi Kunci Pembebasan PBB-P2 di Jakarta
Momentum Jakarta Fair,...
Momentum Jakarta Fair, Bapenda DKI Permudah Warga Bayar Pajak Kendaraan
Penjelasan soal Aturan...
Penjelasan soal Aturan Tarif PPh Final 0,5% Kini Khusus buat UMKM
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Menkeu Purbaya Pastikan...
Menkeu Purbaya Pastikan Skema Pajak DSI Berlaku Normal
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Data NIK Jadi Penentu,...
Data NIK Jadi Penentu, Warga Diimbau Cek Syarat Pembebasan PBB-P2
Bayar PBB-P2 hingga...
Bayar PBB-P2 hingga 31 Juli, Warga Jakarta Otomatis Dapat Potongan 7,5%
Rekomendasi
Breaking News! Polisi...
Breaking News! Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya Sadis Wanita selama 3 Tahun di Kosan
Berkas Perkara 3 Pejabat...
Berkas Perkara 3 Pejabat Bea Cukai Dilimpahkan ke Pengadilan, Segera Disidang
Head-to-Head Inggris...
Head-to-Head Inggris vs Ghana: The Three Lions Tak Pernah Kalah dari Afrika
Berita Terkini
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved