Gapki Sebut Kebijakan Baru Uni Eropa Bakal Keringkan Ekspor Minyak Sawit

Rabu, 14 Juni 2023 - 17:43 WIB
loading...
Gapki Sebut Kebijakan...
Kebijakan UE akan berdampak pada ekspor sawit. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia ( Gapki ) menyatakan, kebijakan Undang-undang Komoditas Bebas Deforestasi Uni Eropa atau EU Deforestation Regulation (EUDR) akan berdampak buruk terhadap ekspor sawit Indonesia. Kebijakan tersebut akan diterapkan setidaknya 18 bulan ke depan, sehingga nantinya komoditas yang dinilai melakukan deforestasi atau pembabatan hutan bakal dilarang masuk ke pasar Uni Eropa.

Baca juga: Uni Eropa Bikin Aturan Suka-suka: Perketat 6 Produk Indonesia Masuk Pasarnya

"Pertama tentang EUDR ini merupakan regulasi yang akan membuat perubahan signifikan dalam perdagangan atau ekspor sawit kita ke Eropa," kata Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Gapki M. Fadhil Hasan Fadhil dalam sebuah diskusi, Rabu (14/6/2023).

Menurutnya, larangan ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa sudah ada sebelumnya. Namun larangan itu hanya membatasi penggunaan sawit untuk kebutuhan bahan bakar. Lewat kebijakan EUDR, Uni Eropa memperketat penjualan sawit ke negaranya dan tidak membatasi spesifik penggunaan kelapa sawit.

"Sebelumnya sudah ada berbagai hambatan, misalnya RED2 yang direvisi, itu menghambat konsumsi sawit untuk sektor energi atau bio fuel. Dengan EUDR ini bukan hanya sektor energi terbarukan yang akan terdampak, tapi juga sektor pangan, karena peraturan ini tidak spesifik mengatur sawit untuk sektor tertentu, tetapi ini semua sektor, baik pangan, fuel, dan industri," lanjut Fadhil.

Lewat kebijakan EUDR sawit Indonesia berpotensi tidak bisa dijual sama sekali di pasar Uni Eropa. Kondisi itu yang yang membuat kebijakan EUDR akan berdampak signifikan terhadap ekspor sawit di Indonesia.

"Sebelum EUDR diterbitkan, kita memang melihat sejak 2017 itu ekspor sawit Indonesia ke Eropa mengalami penurunan yang signifikan. Kita pernah mencapai total 5,5 juta ton, tapi sekarang ini hanya 3,75 juta ton tahun 2022," sambungnya.

Di samping itu, menurutnya kebutuhan minyak nabati Uni Eropa setiap tahun mengalami pertumbuhan sebesar 4,3%. Sehingga menurut Fadhil adanya kebijakan EUDR ini memang sengaja untuk membatasi produk sawit agar minyak biji bunga matahari yang mereka produksi sendiri bisa menguasai pasar Uni Eropa.

"Jadi yang terjadi di EU adalah adanya pergeseran. Mereka sebelumnya banyak menggunakan sawit, tetapi kemudian karena sawit ini dihambat, akhirnya mereka begeser ke minyak nabati lainnya yang diproduksi oleh mereka sendiri, seperti minyak bunga matahari, rapeseed, dan soybean (kedelai), jadi ada pergeseran itu," pungkasnya.

Baca juga: Ayah Bunuh Anak Kandung di Depok Dituntut Hukuman Mati

Sekedar informasi tambahan, kebijakan EUDR tersebut mengatur spesifik beberapa komoditas yang dilarang berjualan di pasar Eropa karena dinilai memiliki kontribusi terhadap pembabatan hutan. Komoditas tersebut seperti CPO, kopi, kakau, karet, furniture, dan sapi.

(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Sertifikasi RSPO Kunci...
Sertifikasi RSPO Kunci Akses Pasar dan Penguatan Petani Sawit Swadaya
BPDP, Ditjenbun dan...
BPDP, Ditjenbun dan AKPY Latih 122 Pekebun Sawit OKI Tingkatkan Kualitas Panen
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
Petani Sawit Apresiasi...
Petani Sawit Apresiasi PKS Taat HPP di Tengah Anjloknya Harga TBS
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
119 Pekebun Morowali...
119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Rekomendasi
THE Sustainability Impact...
THE Sustainability Impact Ratings 2026, Western Sydney University Raih Peringkat 3 Dunia
Bareskrim Ungkap Peran...
Bareskrim Ungkap Peran 4 WNI dalam Sindikat Judi Online Internasional di Hayam Wuruk
Gempa Magnitudo 6,8...
Gempa Magnitudo 6,8 Guncang Pulau Tahuna Sulut
Berita Terkini
Dataran Tinggi Tak Lagi...
Dataran Tinggi Tak Lagi Area Pinggiran, UPLAND Jadikannya Pilar Kedaulatan Pangan
Ekonom Bank Mandiri...
Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Modernland Realty Catat...
Modernland Realty Catat Laba Bersih Rp241,12 Miliar di 2025
Lusi Tak Menyangka Dapat...
Lusi Tak Menyangka Dapat Hadiah Mobil dari Tabungan Dahsyat Arisan MNC Bank
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Buka 3 Posko Bantu Korban Penipuan Investasi
Emas Now Tawarkan Investasi...
Emas Now Tawarkan Investasi Logam Mulia Lebih Inklusif
Infografis
Bersiap Perang, 450...
Bersiap Perang, 450 Juta Warga Uni Eropa Diminta Timbun Makanan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved