Disukai Semua Kalangan, Pasar Kopi Menyasar Semua Usia
Sabtu, 25 Juli 2020 - 11:12 WIB
loading...
A
A
A
Profesi lainnya adalah trader, sekarang tengkulak makin pintar untuk membuat data kopi yang mereka jual. Sehingga dibutuhkan mereka yang dapat menguntungkan petani. Banyak lulusan universitas di kota besar kembali ke desa mereka membuka kebun. Menjadi petani yang memiliki skill dan ilmu yang mumpuni sehingga hasil panen bisa lebih baik. (Baca juga: Imam Masjid yang Ditikam Usai Salat Selamat, Pisau Pelaku Bengkok)
Rumah Kopi Ranin di Kota hujan Bogor memiliki program sekolah kopi bagi para petani. Sejak 2014 menjadi pendamping petani kopi Cibulao di Cisarua, Kabupaten Bogor, bahkan sempat menjadi juara nasional pada 2016.
Rumah Kopi Ranin juga membuat sekolah kopi untuk petani di Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara. Bukan hanya petani, kini mereka menyasar para generasi muda dengan mengajar mahasiswa di IPB.
Uji mengatakan, latar belakang mereka yang berbeda-beda, ada yang sudah biasa di kebun kopi ada yang juga yang baru mengenal kopi . Namun mereka memiliki antusias dan semangat yang sama.
"Tujuan Sekolah Kopi ini agar generasi muda membangun imajinasi mereka yang mungkin selama ini di pendidikannya tidak menggunakan imajinasi. Banyak proses dari prosesor hingga ke barista yang membutuhkan imajinasi dan seni," ungkap Uji.
Selain itu dia juga ingin mengenalkan kopi bukan hanya dilihat dari fisiknya tetapi dari cita rasanya. Sebab, selama ini jika merujuk pada SNI yang dinilai hanya mutu fisik saja.
Sekolah kopi dipersembahkan oleh IPB bekerja sama dengan Rumah Kopi Ranin. Ditujukan bagi mahasiswanya yang ingin serius mempelajari tentang kopi. Para barista muda ini akan difasilitasi untuk menambah pengalaman mereka usai menjalani pelatihan di Sekolah Kopi. Tidak mudah juga bisa menjadi anak didik Sekolah Kopi karena melalui sejumlah tes. Pertama tes administratif lalu ada tes tertulis dan uji cita rasa. (Lihat videonya: Usai Memesan Minuman, Seorang Pengunjung Warkop Meninggal)
Petani kopi di Indonesia memang butuh terus diedukasi, maka mereka yang memiliki ilmu harus terus berbagi ilmu. Koperasi Klasik Beans di Bandung, contohnya. Bukan hanya sekedar menjadi koperasi yang membantu ekonomi petani, namun juga mengedukasi bagaimana menanam kopi yang baik sehingga menghasilkan kopi berkualitas.
Yadi Mulyadi salah satu pendiri koperasi Klasik Beans menjelaskan, tanaman kopi memiliki sifat menyerap apa yang ada di sekitarnya. Yadi mencontohkan jika kopi ditanam dengan tanaman sayuran yang banyak menggunakan pestisida pasti kopinya juga akan menyerap pestisida sehingga menjadi kopi yang tidak sehat. "Lingkungan sangat berpengaruh bagi kualitas kopi begitu juga bila di sekitar tanaman kopi airnya kotor pasti kopinya tidak enak," ujarnya.
Yadi menilai itu menjadi kelemahan petani Indonesia menanam kopi dengan asal-asalan tidak tahu kebersihan air juga lingkungan sekitar. Walaupun Indonesia banyak jenis kopi tetapi kalah dengan negara lain yang lebih peduli terhadap tanaman kopi. (Ananda Nararya)
Rumah Kopi Ranin di Kota hujan Bogor memiliki program sekolah kopi bagi para petani. Sejak 2014 menjadi pendamping petani kopi Cibulao di Cisarua, Kabupaten Bogor, bahkan sempat menjadi juara nasional pada 2016.
Rumah Kopi Ranin juga membuat sekolah kopi untuk petani di Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara. Bukan hanya petani, kini mereka menyasar para generasi muda dengan mengajar mahasiswa di IPB.
Uji mengatakan, latar belakang mereka yang berbeda-beda, ada yang sudah biasa di kebun kopi ada yang juga yang baru mengenal kopi . Namun mereka memiliki antusias dan semangat yang sama.
"Tujuan Sekolah Kopi ini agar generasi muda membangun imajinasi mereka yang mungkin selama ini di pendidikannya tidak menggunakan imajinasi. Banyak proses dari prosesor hingga ke barista yang membutuhkan imajinasi dan seni," ungkap Uji.
Selain itu dia juga ingin mengenalkan kopi bukan hanya dilihat dari fisiknya tetapi dari cita rasanya. Sebab, selama ini jika merujuk pada SNI yang dinilai hanya mutu fisik saja.
Sekolah kopi dipersembahkan oleh IPB bekerja sama dengan Rumah Kopi Ranin. Ditujukan bagi mahasiswanya yang ingin serius mempelajari tentang kopi. Para barista muda ini akan difasilitasi untuk menambah pengalaman mereka usai menjalani pelatihan di Sekolah Kopi. Tidak mudah juga bisa menjadi anak didik Sekolah Kopi karena melalui sejumlah tes. Pertama tes administratif lalu ada tes tertulis dan uji cita rasa. (Lihat videonya: Usai Memesan Minuman, Seorang Pengunjung Warkop Meninggal)
Petani kopi di Indonesia memang butuh terus diedukasi, maka mereka yang memiliki ilmu harus terus berbagi ilmu. Koperasi Klasik Beans di Bandung, contohnya. Bukan hanya sekedar menjadi koperasi yang membantu ekonomi petani, namun juga mengedukasi bagaimana menanam kopi yang baik sehingga menghasilkan kopi berkualitas.
Yadi Mulyadi salah satu pendiri koperasi Klasik Beans menjelaskan, tanaman kopi memiliki sifat menyerap apa yang ada di sekitarnya. Yadi mencontohkan jika kopi ditanam dengan tanaman sayuran yang banyak menggunakan pestisida pasti kopinya juga akan menyerap pestisida sehingga menjadi kopi yang tidak sehat. "Lingkungan sangat berpengaruh bagi kualitas kopi begitu juga bila di sekitar tanaman kopi airnya kotor pasti kopinya tidak enak," ujarnya.
Yadi menilai itu menjadi kelemahan petani Indonesia menanam kopi dengan asal-asalan tidak tahu kebersihan air juga lingkungan sekitar. Walaupun Indonesia banyak jenis kopi tetapi kalah dengan negara lain yang lebih peduli terhadap tanaman kopi. (Ananda Nararya)
(ysw)
Lihat Juga :