Ekonomi Mulai Pulih, Tiga Risiko Global Perlu Diwaspadai
Rabu, 28 Juni 2023 - 17:59 WIB
loading...
Risiko global masih terus diwaspadai. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berkoordinasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan untuk memastikan stabilitas sektor keuangan secara berkala. Adapun ekonomi terus menjukkan pemulihan dengan sektor keuangan terjaga dan UMKM terus meningkat.
"Indonesia merupakan salah satu negara yang bangkit cepat dan kuat dari pandemi, serta menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah tingginya risiko global," ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu di Jakarta, Rabu (28/6/2023).
Baca Juga: Ekonomi Sulit, Pemuda China Ramai-ramai Mendekat pada Tuhan
Dia mengatakan pemulihan secara luas juga terlihat di berbagai sektor yang sebelumnya terdampak cukup dalam akibat pandemi seperti sektor transportasi, hotel, dan restoran.
"Saat ini, Indonesia masih perlu mewaspadai risiko eksternal yang masih tinggi, yang menurut IMF bersumber dari berbagai faktor," ucap Febrio.
Pertama, perlambatan ekonomi global yang dapat memberi tekanan pada harga beberapa komoditas ekspor Indonesia. Kedua, volatilitas pasar keuangan global antara lain akibat sentimen kegagalan perbankan AS dan pengetatan likuidi-tas global.
"Ketiga, tensi geopolitik yang cenderung meningkat. Di sisi lain, pemulihan ekonomi China diharapkan menguat dan tren moderasi inflasi mitra dagang Indonesia berlanjut sehingga dapat mendorong prospek ekonomi ke depan," sambungnya.
"Indonesia merupakan salah satu negara yang bangkit cepat dan kuat dari pandemi, serta menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah tingginya risiko global," ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu di Jakarta, Rabu (28/6/2023).
Baca Juga: Ekonomi Sulit, Pemuda China Ramai-ramai Mendekat pada Tuhan
Dia mengatakan pemulihan secara luas juga terlihat di berbagai sektor yang sebelumnya terdampak cukup dalam akibat pandemi seperti sektor transportasi, hotel, dan restoran.
"Saat ini, Indonesia masih perlu mewaspadai risiko eksternal yang masih tinggi, yang menurut IMF bersumber dari berbagai faktor," ucap Febrio.
Pertama, perlambatan ekonomi global yang dapat memberi tekanan pada harga beberapa komoditas ekspor Indonesia. Kedua, volatilitas pasar keuangan global antara lain akibat sentimen kegagalan perbankan AS dan pengetatan likuidi-tas global.
"Ketiga, tensi geopolitik yang cenderung meningkat. Di sisi lain, pemulihan ekonomi China diharapkan menguat dan tren moderasi inflasi mitra dagang Indonesia berlanjut sehingga dapat mendorong prospek ekonomi ke depan," sambungnya.
Lihat Juga :