AS Balas Moskow? JPMorgan Setop Layani Pembayaran Ekspor Pangan Rusia

Selasa, 08 Agustus 2023 - 09:06 WIB
loading...
AS Balas Moskow? JPMorgan...
Bank asal Amerika Serikat (AS), JPMorgan pada pekan ini menghentikan pemrosesan pembayaran untuk Bank Pertanian Rusia. Foto/Dok
A A A
MOSKOW - Bank asal Amerika Serikat (AS) , JPMorgan pada pekan ini menghentikan pemrosesan pembayaran untuk Bank Pertanian Rusia. Hal ini disampaikan oleh pihak Rusia pada akhir pekan kemarin, yang menuntut aksi nyata Washington bukan hanya janji untuk membantu biji-bijian dan pupuk Rusia mencapai pasar global.

Baca Juga: Rusia Menolak Kembali ke Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam

JPMorgan telah menangani beberapa pembayaran ekspor biji-bijian Rusia selama beberapa bulan terakhir dengan jaminan dari Washington. Namun, kerja sama itu berhenti minggu ini, seperti disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Rusia.

"Saluran langsung antara Bank Pertanian Rusia dan JPMorgan ... ditutup pada 2 Agustus," kata juru bicara kementerian luar negeri Maria Zakharova seperti dikutip oleh media Rusia.

PBB, Departemen Luar Negeri AS dan JPMorgan menolak berkomentar terkait hal ini seperti dilansir Reuters. Baca Juga: China Desak Rusia Buka Blokade Ekspor Biji-bijian Laut Hitam Ukraina

Seperti diketahui Moskow telah mengizinkan ekspor biji-bijian Ukraina melalui Laut Hitam selama setahun terakhir di bawah kesepakatan yang dihentikannya pada 17 Juli 2023, lalu. Rusia memiliki daftar tuntutan yang ingin dipenuhi sebelum kembali ke perjanjian.

Di bawah pakta terkait - yang juga ditengahi pada Juli 2022 - para pejabat PBB setuju untuk membantu ekspor makanan dan pupuk Rusia mencapai pasar global. "Segera setelah ini selesai, kesepakatan ini akan segera diperbarui," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, Jumat.

Permintaan utama Rusia adalah penyambungan kembali Bank Pertanian Rusia ke sistem pembayaran internasional SWIFT yang sempat terputus oleh Uni Eropa pada Juni 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Zakharov, juru bicara kementerian luar negeri, mengatakan Barat dan PBB "mencoba memberikan (pemrosesan pembayaran oleh JPMorgan) sebagai alternatif yang berfungsi untuk SWIFT."

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, kepada wartawan pada hari Kamis bahwa, Washington akan terus melakukan "apa pun yang diperlukan" untuk memastikan Rusia dapat dengan bebas mengekspor makanan jika kesepakatan biji-bijian Laut Hitam dihidupkan kembali.

Sementara itu ekspor makanan dan pupuk Rusia tidak dikenakan sanksi Barat yang diberlakukan setelah invasi Rusia Februari 2022 ke Ukraina. Namun Moskow mengatakan, pembatasan pembayaran, logistik, dan asuransi telah menghambat pengiriman pangan.

Ekspor Rusia Tokcer

Pejabat tinggi sanksi Departemen Luar Negeri AS, James O'Brien mengatakan, pada hari Jumat bahwa, Rusia harus jelas tentang apa yang dimintanya dan apa yang menjadi landasan keberhasilan. Ia menyarankan, seharusnya ditentukan berapa banyak makanan dan pupuk yang harus mencapai dunia.

"Mereka (Rusia) telah mengajukan sejumlah tuntutan yang berbeda dan semuanya berkaitan dengan berbagai lembaga Rusia yang tidak mendapatkan layanan dari sektor swasta," katanya kepada wartawan.

"Kami telah menjelaskan bahwa kami siap untuk membantu dalam semua masalah ini," terangnya.

"Ekspor biji-bijian Rusia mencetak rekor. Jadi jika ukurannya adalah makanan untuk dunia ... Keluhan Rusia sama dengan tuduhan kecil tentang sistem yang bekerja dengan sangat baik," kata O'Brien.

Rusia diperkirakan bisa mengekspor setidaknya 55 juta ton biji-bijian pada musim pemasaran 2023/2024, sedikit lebih rendah dari proyeksi pemecahan rekor 57 juta ton pada musim 2022/23, kata Serikat Gandum Rusia bulan lalu.

Ekspor Ukraina untuk musim 2022/2323 tercatat hampir 49 juta ton, menurut data Kementerian Pertanian. Hampir 33 juta ton di antaranya dikirim di bawah kesepakatan Laut Hitam.

Negara-negara Barat menuduh Rusia menggunakan makanan sebagai senjata perang dengan keluar dari kesepakatan Laut Hitam, yang telah membantu menurunkan harga pangan global, dan kemudian melakukan serangan udara berulang kali di pelabuhan dan gudang biji-bijian Ukraina.

Di sisi lain Rusia mengeluh bahwa tidak cukup gandum Ukraina sampai ke negara-negara termiskin. PBB berpendapat bahwa kesepakatan laut hitam membantu semua orang karena membuat harga pangan turun 23% dari rekor tertinggi imbang setelah invasi Rusia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Rekomendasi
Evita: Kebijakan Bebas...
Evita: Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Buka Lapangan Kerja dan Gerakkan UMKM
Putri Pelatih Norwegia...
Putri Pelatih Norwegia Bikin Heboh Piala Dunia 2026
Raffi Ahmad Donasi Rp250...
Raffi Ahmad Donasi Rp250 Juta untuk Wanita Korban Penyiksaan Taufik Hidayat
Berita Terkini
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
Salah Pilih Rekening...
Salah Pilih Rekening Tujuan? Cara Batalkan Pencairan Pinjaman Kredivo
Daya Saing Indonesia...
Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
Pasar Potensial Industri...
Pasar Potensial Industri Pembiayaan, Chailease Finance Dukung Pertumbuhan UKM Bandung
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved