Sektor Perumahan Jadi Pembangkit Ekonomi di Tengah Pandemi Corona
Kamis, 30 Juli 2020 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Pahala berharap dengan menggenjot sektor perumahan pada kuartal ketiga tahun ini, minimal pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mengalami kontraksi. Sehingga Indonesia tidak masuk dalam jurang resesi seperti Singapura dan Korea Selatan. “Pemerintah sangat berharap agar kuartal ketiga ini, pertumbuhan ekonomi tidak minus. Kami dari Himbara akan bekerja keras untuk membantu pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi,” tegasnya. (Baca juga: Indonesia-Turki Coba Kerjasama di Bidang Penerbang dan Antariksa)
Apa yang bisa dilakukan BTN untuk membantu pemerintah, Pahala menegaskan hubungan yang kuat dengan 5.000 pengembang akan memudahkan perseroan mempercepat pembangunan perumahan. Hanya saja perlu ada sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) khususnya dari regulasi agar ada aturan yang memudahkan pengembang bisa membangun perumahan dengan cepat.
Ada beberapa persyaratan khususnya untuk KPR bersubsidi yang bisa diberikan kelonggaran. Misalnya untuk bisa dilakukan akad persetujuan KPR bersubsidi itu jalannya harus sudah jadi, atau listriknya sudah terpasang atau air bersihnya sudah tersedia. Padahal untuk melakukan percepatan hal-hal seperti ini bisa dilakukan secara paralel. “Yang penting komitmen pengembang itu kuat untuk bisa melakukan hal tersebut dan bisa dibuktikan misal dengan sudah bayar retribusi pemasangan listrik,” tegas Pahala.
Menurut dia, hingga kini sektor perumahan di Tanah Air baru memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 2,77%. Posisi tersebut jauh di bawah kontribusi properti di negara kawasan Asean lainnya yang berkisar 8%-23%. “Sehingga kami berkomitmen akan terus mendukung pengembangan sektor perumahan. Apalagi di masa pandemi ini, rumah menjadi tempat berlindung paling aman bagi masyarakat Indonesia,” katanya.
Senada dengan Pahala, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, PEN digelontorkan untuk industri perumahan mengingat dampak lanjutan yang besar dari akselerasi di sektor tersebut. Untuk itu, sektor perumahan perlu terus melakukan terobosan dan instrumen baru karena sektor ini punya multiplier effect yang besar. “Kami harapkan dengan upaya tersebut dapat meningkatkan permintaan dari sektor lain sehingga mendorong pemulihan ekonomi,” jelas Suahasil dalam Webinar bertajuk Sinergi untuk Percepatan Pemulihan Sektor Perumahan di Jakarta, kemarin. (Baca juga: Mesir Terima Lima Jet Tempur Rusia Sukhoi Su-35 Meski AS Marah)
Dengan besarnya multiplier effect yang dihasilkan sektor perumahan, Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Totok Lusida meminta pemerintah menerapkan kebijakan yang extraordinary khususnya relaksasi untuk pengembang. Beberapa relaksasi yang diperlukan untuk sektor perbankan, tenaga kerja, pajak, retribusi, perizinan, dan energi.
Apa yang bisa dilakukan BTN untuk membantu pemerintah, Pahala menegaskan hubungan yang kuat dengan 5.000 pengembang akan memudahkan perseroan mempercepat pembangunan perumahan. Hanya saja perlu ada sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) khususnya dari regulasi agar ada aturan yang memudahkan pengembang bisa membangun perumahan dengan cepat.
Ada beberapa persyaratan khususnya untuk KPR bersubsidi yang bisa diberikan kelonggaran. Misalnya untuk bisa dilakukan akad persetujuan KPR bersubsidi itu jalannya harus sudah jadi, atau listriknya sudah terpasang atau air bersihnya sudah tersedia. Padahal untuk melakukan percepatan hal-hal seperti ini bisa dilakukan secara paralel. “Yang penting komitmen pengembang itu kuat untuk bisa melakukan hal tersebut dan bisa dibuktikan misal dengan sudah bayar retribusi pemasangan listrik,” tegas Pahala.
Menurut dia, hingga kini sektor perumahan di Tanah Air baru memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 2,77%. Posisi tersebut jauh di bawah kontribusi properti di negara kawasan Asean lainnya yang berkisar 8%-23%. “Sehingga kami berkomitmen akan terus mendukung pengembangan sektor perumahan. Apalagi di masa pandemi ini, rumah menjadi tempat berlindung paling aman bagi masyarakat Indonesia,” katanya.
Senada dengan Pahala, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, PEN digelontorkan untuk industri perumahan mengingat dampak lanjutan yang besar dari akselerasi di sektor tersebut. Untuk itu, sektor perumahan perlu terus melakukan terobosan dan instrumen baru karena sektor ini punya multiplier effect yang besar. “Kami harapkan dengan upaya tersebut dapat meningkatkan permintaan dari sektor lain sehingga mendorong pemulihan ekonomi,” jelas Suahasil dalam Webinar bertajuk Sinergi untuk Percepatan Pemulihan Sektor Perumahan di Jakarta, kemarin. (Baca juga: Mesir Terima Lima Jet Tempur Rusia Sukhoi Su-35 Meski AS Marah)
Dengan besarnya multiplier effect yang dihasilkan sektor perumahan, Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Totok Lusida meminta pemerintah menerapkan kebijakan yang extraordinary khususnya relaksasi untuk pengembang. Beberapa relaksasi yang diperlukan untuk sektor perbankan, tenaga kerja, pajak, retribusi, perizinan, dan energi.
Lihat Juga :