Krisis Real Estate China Makin Parah Usai Raksasa Properti Evergrande Ajukan Bangkrut
Jum'at, 18 Agustus 2023 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
Evergrande belakangan telah bekerja untuk menegosiasikan kembali perjanjiannya dengan kreditur setelah gagal membayar utangnya. Diperkirakan utang raksasa properti China, Evergrande berjumlah lebih dari USD300 miliar, untuk membuatnya menjadi pengembang properti yang paling banyak berhutang di dunia.
Sahamnya telah ditangguhkan dari perdagangan sejak tahun lalu. Evergrande mengungkapkan bulan lalu bahwa mereka secara total mengalami kerugian mencapai USD80 miliar selama periode dua tahun terakhir.
Pekan lalu, raksasa properti besar China lainnya, Country Garden, memperingatkan bahwa mereka kemungkinan besar bakal menelan kerugian hingga USD7,6 miliar untuk enam bulan pertama tahun ini.
Beberapa perusahaan terbesar di pasar real estat China juga sedang berjuang mendapatkan uang untuk menyelesaikan pembangunan.
"Kunci untuk masalah ini adalah menyelesaikan proyek yang belum selesai karena ini setidaknya akan membuat sebagian pembiayaan mengalir," kata Steven Cochrane dari perusahaan riset ekonomi Moody's Analytics.
Dia menambahkan, bahwa banyak rumah pra-penjualan tetapi jika konstruksi berhenti, pembeli tidak lagi melakukan pembayaran hipotek, yang menempatkan lebih banyak tekanan pada keuangan pengembang.
Sahamnya telah ditangguhkan dari perdagangan sejak tahun lalu. Evergrande mengungkapkan bulan lalu bahwa mereka secara total mengalami kerugian mencapai USD80 miliar selama periode dua tahun terakhir.
Pekan lalu, raksasa properti besar China lainnya, Country Garden, memperingatkan bahwa mereka kemungkinan besar bakal menelan kerugian hingga USD7,6 miliar untuk enam bulan pertama tahun ini.
Beberapa perusahaan terbesar di pasar real estat China juga sedang berjuang mendapatkan uang untuk menyelesaikan pembangunan.
"Kunci untuk masalah ini adalah menyelesaikan proyek yang belum selesai karena ini setidaknya akan membuat sebagian pembiayaan mengalir," kata Steven Cochrane dari perusahaan riset ekonomi Moody's Analytics.
Dia menambahkan, bahwa banyak rumah pra-penjualan tetapi jika konstruksi berhenti, pembeli tidak lagi melakukan pembayaran hipotek, yang menempatkan lebih banyak tekanan pada keuangan pengembang.
Lihat Juga :