Bisnis Properti Membaik, LPKR Cetak Rp1,32 Triliun dari Real Estate Development
Kamis, 30 Juli 2020 - 13:59 WIB
loading...
A
A
A
"Pada kuartal II/2020, kami melaporkan laba selisih kurs tak terealisasi sebesar Rp1,9 triliun karena Rupiah menguat terhadap USD dan hampir mengimbangi kerugian forex yang belum direalisasi sebesar Rp446 miliar di semester I/2020. Karena rupiah terdepresiasi terhadap USD, LPKR melaporkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp864 miliar pada kuartal kedua 2020, namun ini tidak dapat mengimbangi rugi bersih pada kuartal pertama 2020," jelas John.
Menurut John, pelepasan lindung nilai secara proaktif, peluncuran obligasi, obligasi tambahan dan divestasi First REIT membantu memperkuat neraca perseroan pada semester I/2020. LPKR memperkuat posisi kasnya dan memperbaiki jatuh tempo utangnya dengan pembiayaan kembali obligasinya dari 2022 menjadi 2025.
(Baca Juga: Ingin Bisnis Properti Tetap Jalan Saat Pandemi, Ikuti Lima Langkah Ini)
Saldo kas dan setara kas pada semester I/2020 sebesar Rp4,54 triliun dibandingkan dengan Rp4,69 triliun pada akhir tahun 2019. Perseroan meningkatkan saldo kas sebesar Rp860 miliar dengan melepas posisi lindung nilai yang ada dan menggantinya dengan lindung nilai collar pada Rp15,000 hingga Rp17,500 serta menambah kas sebesar Rp249 miliar dari pelepasan saham First REIT.
Perseroan melaporkan total utang yang lebih tinggi dalam rupiah, mencapai Rp13,44 triliun pada semester I/2020 dibanding dengan Rp12,25 triliun pada akhir tahun 2019, terutama disebabkan oleh kenaikan utang bank jangka pendek, dari ICBC sebesar Rp100 miliar, BNI sebesar Rp170 miliar dan Bank Mandiri sebesar Rp400 miliar. Sebagai hasilnya, rasio utang bersih terhadap ekuitas menjadi 0,28x pada semester I/2020 dibandingkan dengan 0,22x pada kuartal empat 2019.
"Perseroan menjajaki peluang untuk mendiversifikasi sebagian utang dari USD, dengan lebih banyak utang dalam mata uang Rupiah, karena saat ini utang berdenominasi USD sebesar 86% dari total utang," jelas John.
Menurut John, pelepasan lindung nilai secara proaktif, peluncuran obligasi, obligasi tambahan dan divestasi First REIT membantu memperkuat neraca perseroan pada semester I/2020. LPKR memperkuat posisi kasnya dan memperbaiki jatuh tempo utangnya dengan pembiayaan kembali obligasinya dari 2022 menjadi 2025.
(Baca Juga: Ingin Bisnis Properti Tetap Jalan Saat Pandemi, Ikuti Lima Langkah Ini)
Saldo kas dan setara kas pada semester I/2020 sebesar Rp4,54 triliun dibandingkan dengan Rp4,69 triliun pada akhir tahun 2019. Perseroan meningkatkan saldo kas sebesar Rp860 miliar dengan melepas posisi lindung nilai yang ada dan menggantinya dengan lindung nilai collar pada Rp15,000 hingga Rp17,500 serta menambah kas sebesar Rp249 miliar dari pelepasan saham First REIT.
Perseroan melaporkan total utang yang lebih tinggi dalam rupiah, mencapai Rp13,44 triliun pada semester I/2020 dibanding dengan Rp12,25 triliun pada akhir tahun 2019, terutama disebabkan oleh kenaikan utang bank jangka pendek, dari ICBC sebesar Rp100 miliar, BNI sebesar Rp170 miliar dan Bank Mandiri sebesar Rp400 miliar. Sebagai hasilnya, rasio utang bersih terhadap ekuitas menjadi 0,28x pada semester I/2020 dibandingkan dengan 0,22x pada kuartal empat 2019.
"Perseroan menjajaki peluang untuk mendiversifikasi sebagian utang dari USD, dengan lebih banyak utang dalam mata uang Rupiah, karena saat ini utang berdenominasi USD sebesar 86% dari total utang," jelas John.
Lihat Juga :